CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Sabtu, 24 Juni 2017

Sisi Lain

KARANGAN BUNGA


Tak semua yang jadi pemenang itu tenang, setelah kompetisi berakhir ada juga yang merasa gundah was-was & cemburu .. entah kenapa.

Alkisah, dulu dikampung kami ada kawan ditinggal nikah oleh pacarnya. Tentu kawan ini galau berat, lalu kami punya ide untuk mengadakan 'perayaan'. Semacam pesta kesedihan, pecundang juga berhak tertawa .. dan kami sebagai kawan menyediakan 'ruang'. Saling ledek, saling tertawai. Tujuannya agar yang ditinggal nikah merasa enjoy, bahwa kekalahan oleh saingan adalah sesuatu yang biasa. Jadilah pesta kecil bersama 'berpeko-peko tuak', begadang semalaman untuk menertawakan kenyataan.

Namun ternyata setelahnya kegundahan itu kemudian bukan ada di kawan yang jadi pecundang, tapi malah di saingannya yang jadi pemenang di pelaminan. Entah kenapa si saingannya itu selalu dihantui perasaan khawatir yang tidak jelas dan cemburu tak beralasan. Padahal perempuan itu telah jadi istrinya dan kawan kami itu setelahnya hampir tak pernah mengobrolkannya. Biasa aja ..

Setelah dipikir-pikir mungkin ini sisi lain manusia. Ketidakpercayaan diri bahwa dialah pemenangnya, jadi selalu berpikir aneh-aneh setiap kali melihat kawan kami lewat depan rumahnya. Setiap kali kami mendengar atau melihat kami berkumpul dan tertawa, ia merasa harus bersiaga. Padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Ia bagai pemenang yang tak merasa yakin menang.


Di posting di Bandung, 24 Juni 2017


------------------------

Kopi Lokal

MUSIM DINGIN


Di Lombok, ketika sudah lewat musim hujan dan saat masuk musim kemarau, ada masa dimana suhu dingin cenderung terasa menggigit. Embun dimalam hari turun lebih cepat dan tebal hingga terkadang terasa seperti ada gerimis kecil, dingin yang bagi sebagian orang membuat kulit terasa kering. Kabut dipagi hari juga terlihat lebih tebal dari biasanya. Masa ini biasa disebut dengan TELIH KEMBANG KOMAK.

Jika di Indonesia-kan, telih kembang komak itu artinya DINGINNYA KETIKA KACANG BERBUNGA .. saat yang tepat bagi petani untuk menanam palawija, setelah 2 kali menanam padi. Musim telih kembang komak juga membuat 'peta' berubah bagi penggemar 'kearifan lokal'. Di sesi ini 'Palm Wine' alias TUAK jadi tidak menarik untuk dinikmati, "terlalu dingin, bawaannya pengin pipis melulu," katanya. Tentu saja, karena tak ada tuak panas atau hangat.

Saatnya BREM alias air tapai atau air tapai ketan jadi pilihan menarik. Brem yang sudah diproduksi dari berbulan-bulan lalu oleh para peraciknya mulai dibuka, setidaknya brem yang disimpan semenjak musim kenduri kawinan sehabis panen tahun lalu. Bagi pedagang tetap, bremnya bisa diproduksi langsung sekarang. Cuma memang lebih nikmat yang disimpan lama, "dingin dimulut hangat diperut." Mengkonsumsinya juga tak mesti sebanyak tuak yang sekali 'ngumpul' bisa sampai berliter-liter ember (peko : sasak language). Kalau brem mah cukup beberapa botol saja.

Efek sampingnya? Melawan dingin dan melancarkan curhat.



Di posting di Bandung, 24 Juni 2017


------------------------------------

Kearifan Lokal

PESTA SENJA

Saya sedang teringat Kedai Nona Senja, ketika postingan ini saya ketik. Di Lombok, menjelang Ramadhan tiba biasanya akan kita jumpai acara-acara ditiap 'santren' (mushola) kampung. Beberapa hari sebelum masuk bulan suci puasa, masing-masing mushola mengadakan semacam hajat yang diisi dengan zikir dan makan bersama para warga sekitar mushola tersebut. Acara tersebut bernama ROAH KEBIAN. Para warga secara swadaya membawa masakan masing-masing ke mushola.

Secara nama, ROAH itu artinya hajatan / kenduri dan KEBIAN itu artinya sore. Hajatan ini memang khusus dilakukan hanya jelang Ramadhan saja dan waktunya adalah sore hari selepas ashar. Semua mushola dan masjid berbenah, bersih-bersih sekaligus memastikan lampu tak ada yang mati bohlamnya dan sajadah serta semua mukena 'on fire' nanti untuk digunakan saat tarawih. Tentu saja, 'ritual' itu diakhiri dengan roah kebian yang berisi zikir dan makan bersama tadi.

Menilik maksud dari nama tersebut, saya berpikir sebuah nama lain yang bisa dipahami semua orang. Akhirnya saya melihat bahwa nama lain tersebut adalah PESTA SENJA atau KENDURI SENJA. Sepertinya nama ini yang cocok jika di-Indonesia-kan.


Posting di Bandung, 24 Juni 2017

Kamis, 29 Januari 2015

M. Galang Mahajati