Minggu, 07 Februari 2010

MENELAAH WAKTU : Catatan Tentang Pandangan Diri

“ Renungan Perjalanan “
ilustrasi oleh: sendiri aja dibantu adobephotoshop CS2


REALISTIS


- Bagaimanapun juga, ketidakrealistisan itu akan membuat keinginan seperti menjadi mimpi. Sama dengan kerealistisan juga akan menempatkan manusia pada posisi normal atau pada posisi tidak wajar dalam melaksanakan harapannya. Menghadang kenyataan dan kita terkadang terjebak pada dilema hidup dalam memutuskan apakah masih wajar dan berhak untuk berharap atau tidak sama sekali .. -

DUNIA adalah tempat buat hidup. Menjalani segala hal yang merupakan bagian dari fitrah manusia sebagai salah satu pengisi bumi. Dilahirkan, besar, bekerja, berkembang biak, dan akhirnya mati kembali kepada pencipta-Nya. Tentunya sebagai sebuah ‘organisasi’ yang besar, hidup di dunia ada aturannya yang berkenaan dengan hak dan kewajiban. Tapi selain itu, saya ingin menambahkan, bahwa manusia juga mempunyai aturan lain yang mengatur tentang harapan. Yah, harapan.. hidup di ‘lembaga super besar’ seperti bumi mempunyai ‘undang-undang’ yang berbeda. Salah satunya adalah mungkin yang disebut dengan takdir, yaitu sebuah misteri (hanya Tuhan yang tahu) yang mengatur hal-hal tentang semua yang berada diluar daya nalar dan pikiran manusia. Lahir, mati, rezeki, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya adalah merupakan rangkaian dari takdir itu. Manusia tentu mengharapkan hal-hal yang sesuai dengan keinginannya dan ia bisa mendapatkan itu dengan usahanya. Namun manusia pun harus bisa menerima jika akhirnya hasil akhir tidak seperti yang diharapkan.

Saya tidak ingin berbicara terlalu banyak tentang harapan. Sudah sering saya berbicara tentang itu, walaupun disini juga menyinggung tentang harapan tapi itu adalah efek dari pembicaraan inti. Yah, kali ini saya ingin berbincang-bincang tentang kenyataan atau yang disebut dengan nama lainnya; REALISTIS. Sebuah kata yang sangat berdekatan arti dan maknanya, yaitu realistis, kenyataan dan fakta. Sebelumnya pada sebuah kesempatan saya pernah mengetik kata “realistis” di mesin pencari terbesar dan (mungkin yang tercepat) di dunia saat ini, www.google.com ketika saya bermain internet. Saat saya meng-enter kata itu, dalam 0,31 detik keluar sekitar 16.800.000 (enam belas juta delapan ratus ribu) kata “realistis” dengan berbagai tautan yang mengandung kata itu. Saya kemudian berpikir jika kata realistis telah menjadi bagian dari banyak sendi kehidupan manusia dalam menjalani hidupnya, termasuk saya.. ya saya sendiri. Apalagi kita hidup di negeri dengan ideologi ketuhanan yang terpatri dalam setiap elemen masyarakatnya.

Sebagai manusia yang dianugerahi pikiran dan akal sehat, tentu saya mempunyai cita-cita atau harapan akan sebuah hari esok yang gemilang. Sebuah hal yang lumrah dan merupakan ‘kewajiban’ agar saya tetap bersemangat menjalani hidup dan juga agar saya mempunyai tujuan hidup yang harus saya gapai dan perjuangkan. Untuk itulah kenapa saya dipelihara dan dididik dengan baik oleh orang tua saya. Lalu atas dasar itulah juga kenapa kemudian saya mencari ilmu, baik lewat sekolah maupun diluar sekolah sebagai pengalaman hidup yang menjadi pembelajaran.

Namun, mempunyai harapan ternyata tidak begitu mudah. Terkadang manusia ‘tersesat’ diparadigma bahwa manusia ‘berhak’ untuk berharap apapun yang dia inginkan dalam hidupnya. Mungkin ini akibat dari kalimat jika manusia bisa melakukan apapun (dalam konteks manusianya) kalau dia mau untuk melakukannya walaupun itu tidak logis dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Biarpun itu intinya adalah menekankan sejauh mana manusia berusaha untuk mewujudkannya, tapi saya tidak begitu sepakat sebab manusia tidak hidup sendiri. Manusia adalah makhluk ego tapi jangan sampai egois sebab ia hidup bersama manusia lain, dimana saat ia mempunyai harapan maka disitu ada hal yang berkaitan dengan manusia lain yang juga mempunyai harapan yang (mungkin) berbeda. Maka disini akan ada tarik menarik keinginan (harapan), siapa yang punya posisi dekat dengan kemungkinan maka dia yang lebih berpeluang untuk menjadi pemenang. Disamping itu, kondisi nyata manusia juga berpengaruh terhadap keinginannya itu, apakah disebut harapan hidup atau harapan kosong yang hanya bisa dinikmati didalam mimpi.

Saya sering terjebak dalam harapan kosong sebab saya tidak (lupa) memperhatikan potensi diri. Yang saya maksud dengan potensi diri adalah siapa saya, seperti apa saya, bagaimana saya, punya apa saya, dan bisa apa saya? Terkadang saya berharap pada falsafah bahwa sesuatu yang diinginkan dengan alasan baik, cara yang baik, dan untuk tujuan baik itu akan selalu bisa mendapatkan jalannya. Ternyata saya lupa satu hal bahwa saya harus realistis dengan diri dan kondisi saya sendiri saat saya mengharapkan sesuatu. Saya memang selalu terjebak dengan angan-angan sendiri. Pada khayalan yang membuat saya seperti ‘hidup di alam nyata’. Padahal saat saya berpikir tentang itu, mungkin saya sedang bermimpi. Berharap besar boleh tapi jangan sampai tidak sepadan dengan kemampuan dan saya harus realistis dengan kemampuan saya.

Banyak hal yang saya inginkan untuk bisa tercapai dalam hidup saya. Sebenarnya tidak ada hal-hal yang (mungkin) menurut orang lain adalah sesuatu yang hebat. Namun kemampuan dan keadaan tiap orang adalah berbeda. Jadi bagi orang lain itu harapan normal dan wajar maka bagi saya adalah menggantung harapan kosong. Saya mungkin tidak realistis dalam melihat siapa saya, seperti apa saya, bagaimana saya, punya apa saya, dan bisa apa saya. Bagaimanapun juga, ketidakrealistisan itu akan membuat keinginan seperti menjadi mimpi. Sama dengan kerealistisan juga akan menempatkan manusia pada posisi normal atau pada posisi tidak wajar dalam melaksanakan harapannya. Menghadang kenyataan dan kita terkadang terjebak pada dilema hidup dalam memutuskan apakah masih wajar dan berhak untuk berharap atau tidak sama sekali.


………………………..
Kukalungkan rinduku selepas aku kembali pulang
Tak akan kulepaskan dekapku
Karena ku tahu pasti aku merindukanmu
Seumur hidupku ..
………………………………….
………………………….

(Perjalanan – PADI)


Saya harus terus banyak belajar, memahami tentang arti diri sendiri. Menghargai keinginan-keinginan saya sendiri dan mencoba untuk menempatkannya secara wajar dan baik. Agar ia tidak menjadi berserak dan tergeletak tanpa makna dan arti sebagai sebuah hikmah hidup. Saya ingin mempunyai harapan-harapan yang realistis dan tidak kosong. Menjadikan harapan saya menjadi realistis.. tapi caranya gimana? Saya sendiri masih bingung hehehee.. Selalu ada masalah dalam setiap masalah dan saya bermasalah dengan keinginan-keinginan saya hehe.. Bingung juga, entahlah.. Pesimis? Tidak sama sekali, cuma bingung saja.. heuheu..


…………………………
Ku tak akan bersuara walau dirimu kekurangan
Hanya setiamu itu .. kuharapkan ..
……………………..
………………………………

(Aku Tak Akan Bersuara – Nike Ardila)



Entahlah, apakah Dedy Dores realistis saat menciptakan lagu itu atau tidak. Atau mungkin juga dia realistis, lalu menciptakan lagu itu untuk mengejek manusia-manusia yang tidak realistis. Saya kurang tahu juga karena sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan Dedy Dores dan menanyakan tentang lagunya itu. Saya sekarang ini mungkin tidak terlalu tertarik untk berbicara masalah latar belakang sebuah lagu itu diciptakan. Para pencipta lagu terkadang terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, seniman memang seperti itu dan saya memakluminya. Tapi itu urusan seniman dan saya bukan seniman. Walaupun harus saya akui juga kalau saya sering terbuai dengan lagu-lagu yang membuat saya merenung dan melamun.

Saya hanya orang biasa yang tidak ingin menggantung cita-cita setinggi bintang dilangit karena itu terlalu tinggi untuk orang seperti saya. Menaruhnya dilangit-langit kamar cukuplah buat saya saat ini. Mungkin itu yang realistis untuk saya gapai. Tapi karena saya adalah orang yang optimis, maka yang saya taruh dilangit-langit kamar itu adalah harapan yang tergantung dilangit. Biar menjadi dekat dan mudah untuk digapai. Tapi bagaimana cara memindahkannya? Sampai tulisan ini saya buat, saya sendiri masih bingung .. Mungkin ada yang mau membantu saya?




Bandung, 7 Pebruari 2010







-------ooOoo-------

Sabtu, 06 Februari 2010

PUISI : Kahlil Gibran

JEJAK 'SANG NABI'



Saya posting sebagai dedikasi buat semua yang merasa sebagai pecinta dan menghargai 'cinta' yang mampir di blog ini, sebuah karya dari Kahlil Gibran. Selamat menyelami ..



" Dari Buku Kahlil Gibran: Sang Nabi "
(klik pada gambar untuk melihat lebih jelas)


KAHLIL Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Basyari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam. Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah. Dari secarik kertas yang ditinggalkan oleh Gibran, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

(lihat lengkapnya pada sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kahlil_Gibran)




*Judul " Apabila Cinta Memilihmu " oleh saya sendiri







-------ooOoo-------

Rabu, 03 Februari 2010

ARTI SEBUAH MAKNA : Catatan Saat Menikmati Hening

" Ini Adalah Daun "
ilustrasi oleh: sendiri aja menggunakan adobephotosop CS2


KISAH SELEMBAR DAUN


-
Kisahnya mengalir bagai hembusan angin padang pasir yang luas. Bergemericik ibarat air sungai yang menerpa bebatuan dan terkadang bergolak bagai gelombang samudera. Sekali waktu menerobos batas etika berbicara yang menggebu-gebu seperti halilintar mahameru. Ia sangat bersemangat, memaksa saya untuk menyelanya agar ia bisa istirahat sejenak mengambil nafas .. -

ALKISAH ada sebuah biji-bijian tergeletak ditanah. Ia berada ditanah itu sebagai sebuah benda yang diterbangkan angin. Tentu biji itu mempunyai pohon induk sebagai tempat dulu ia bergantung dari semenjak berbentuk bunga, besar, dan akhirnya kering dan jatuh. Hujan dan panas membuat beratnya semakin ringan dan akhirnya angin menerbangkannya ketempat yang ia baru lihat. Disanalah ia tergeletak kini, bertunas dan tumbuh menjadi sebuah pohon.

Cerita ini akan mengalir pada selembar daun yang ada dipohon yang telah tumbuh besar itu. Selembar daun, yah.. selembar daun. Apalah artinya selembar daun pada pohon yang rimbun. Tapi jika semua daun itu dipandang sama maka pohon itu tidak akan disebut rimbun. Selembar daun akan saling memberi arti pada lembar-lembar daun yang lain. Kebersamaan akan melahirkan kekuatan, sebuah kuasa untuk memberi arti pada pohon dan membuat teduh sekitarnya. Selembar daun, apa kabarmu hari ini?

Sebuah angin yang teramat kencang telah merontokkan dedaunan dan selembar daun itu adalah salah satu yang tercerabut dari rantingnya. Lalu diterbangkan angin kembali melintasi ruang dan waktu seperti pohon besarnya itu dulu saat masih menjadi biji. Hari ini ia tergeletak disini, didepan pintu kamar. Halaman depan sepertinya masih tidak memberikan tempat buat angin menurunkannya disana hingga akhirnya ia terseret sampai pintu kamar dan pagi tadi saat subuh telah mulai terang saya melihatnya. Diam tanpa bergerak sedikitpun. Tentu ia lelah dan letih setelah menempuh perjalanan panjang untuk sampai disini. Saya memungutnya dan membawanya masuk, ia mesti istirahat.

Selembar daun pada malamnya bercerita, begitu banyak tempat yang telah ia lintasi dan singgahi. Tempat-tempat yang indah maupun yang tidak menyenangkan buatnya. Membukakan matanya tentang berbagai hal yang terjadi diluar sana. Kisahnya mengalir bagai hembusan angin padang pasir yang luas. Bergemericik ibarat air sungai yang menerpa bebatuan dan terkadang bergolak bagai gelombang samudera. Sekali waktu menerobos batas etika berbicara yang menggebu-gebu seperti halilintar mahameru. Ia sangat bersemangat, memaksa saya untuk menyelanya agar ia bisa istirahat sejenak mengambil nafas. Kekaguman saya muncul, selembar daun kini telah menjadi sangat realistis melihat kehidupan.

Diujung malam saya bertanya, “Jadi, sekarang daun ingin bagaimana?”. Pertanyaan saya tentu begitu ambigu dan abstrak yang luas maksudnya. Tapi selembar daun tidak menjadi kaget. Malah ia tersenyum begitu tenang dengan raut yang seolah-olah mempermainkan pertanyaan saya itu. Sepertinya ia telah mempunyai rencana-rencana jauh sebelum saya bertanya.

Yang pasti saya tidak ingin hanya sekedar menjadi sampah yang dibakar menjadi asap polusi udara. Saya ingin menjadi kompos, mungkin juga menjadi inspirasi para pecinta mimpi hidup bagi ide-ide mimpinya atau mungkin juga menjadi atap berteduh bagi mereka yang bisa menggunakan saya.. Yah, saya hanya ingin berguna dan menjadi berarti..”, begitu bijak jawaban yang keluar untuk ukuran selembar daun yang begitu ringan dengan tangkai yang terlihat rapuh.

Ketika mentari sebentar lagi akan terbit kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Kami butuh istirahat sebelum melanjutkan perjuangan menaklukan hidup. Bukan kami, tapi saya.. Yah, saya sendiri saja sebab selembar daun telah saya tinggalkan begitu saja disudut kamar dibelakang speaker komputer. Sebelumnya ia saya letakkan dekat rak sepatu. Hingga pada sore harinya saya tidak menemukan selembar daun itu disitu lagi.

Sepertinya ia telah pergi. Ia mungkin kecewa melihat saya seperti tidak begitu memperdulikannya lagi. Sedikit kehilangan direlung hati saya, kemanakah selembar daun itu sekarang? Melanjutkan perjalanannya melintasi belahan bumi yang lain? Atau keluar dan terpungut secara tidak sengaja oleh petugas kebersihan dan akhirnya dibakar bersama sampah yang lain? Atau juga telah menjadi seperti yang dicita-citakannya itu? Saya sama sekali tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga hari kembali menjadi malam dan saya kembali sendiri. Seandainya selembar daun itu masih ada disini, mungkin kami bisa bercerita-cerita lagi. Tapi sudahlah, semua sudah mengikuti garis takdirnya masing-masing.


Kemanapun angin berhembus ..
Menuntun langkahku .. memahat takdir hidupku disini
Masih tertinggal wangi yang sempat engkau titipkan
Mengharumi kisah hidupku ini

Meski ku terbang jauh melintasi sang waktu
Kemanapun angin berhembus
Aku pasti akan kembali

Kulukiskan indah wajahmu dihamparan awan
Biar tak jemu kupandangi selalu
Kubiarkan semua cintamu membius jiwaku
Yang memaksaku merindukan dirimu

Meski langit memikatku dengan sejuta senyum
Aku tak kan tergoyahkan
Aku pasti akan kembali

(Kemana Angin Berhembus – PADI)


Selembar daun.. Entahlah, apakah nanti saya masih akan mengingatnya. Sekarang saya hanya ingin mengingat pelangi saja, ya.. ‘pelangi’ itu saja. Sebab saya sendiri adalah gerimis dan kami akan mengukir dan mewarnai langit setiap hari. Jika waktu masih berpihak pada perjalanan ini ..




Bandung, 3 Pebruari 2010






-------ooOoo-------