CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Senin, 05 Mei 2008

(masih) Tentang Musik

Mendengarkan Musik



Jazz?? Tidak salah nih?? Saya juga tidak tahu dan tidak menyadari kenapa saya tiba-tiba mulai senang mendengar lagu-lagu Jazz, sejenis musik (yang menurut sebagian orang) adalah musik para borjuis. Woooww… sejak kapan saya masuk golongan kaum borju?? Kalau sekedar lantunan suara Fariz RM. (RM itu artinya Rumah Makan atau apa ya? Contoh; RM. Bundo Kanduang.. tapi kalau singkatan RM-nya dibelakang seperti nama si Fariz?! Saya nggak ngertilah..) lewat Sakura-nya atau Kasih-nya Ermy Kulit mungkin sering juga saya dengar. Tapi merambah ke bermacam-macam lagu Jazz lainnya? Saya juga merasa aneh dengan diri saya sendiri..

Sebenarnya saya akan mendengar segala jenis lagu yang menyenangkan buat saya dengar. Kalau kebetulan yang terbanyak saya dengar itu lagu-lagu dari penyanyi Dangdut dan Slow Rock semacam Rhoma Irama dan Nike Ardila (alm), ya karena saya bukan orang yang terlalu idealis dalam hal mendengarkan musik. Asal menarik dan menyenangkan buat saya dengar, ya saya dengar. Nggak enakeun, ya jangan didengar. Gitu aja. Bukan apa-apa, kalau hanya untuk mendengarkan saja maka saya suka yang liriknya ringan dan nggak perlu dipikir dalam-dalam. Biasa saja dan instant. Semacam indomie sajalah, buka – dengar – nikmati. Santai saja bukan?? Agak berbeda jika saya harus menghadiri sebuah konser musik, wah kalau untuk yang itu saya memang punya beberapa penyanyi dan musisi favorit. Ini memang rada berbeda karena menghadiri konser musik itu lebih ‘berbirokrasi’.. ada semacam proses-lah. Jauh berbeda ketimbang hanya mendengarkan saja di WC umum atau pinggir jalan dan kamar kostan, ini sih semua orang juga bisa.

Lagu-lagu zaman ibu bapak saya masih perawan juga menggairahkan buat saya nikmati. Kalau kebanyakan orang-orang merasa gengsi untuk sekedar mendengar suara emasnya Koes Plus atau Panbers dan Amigos Band, saya malah merasa senang. Bukan saya ingin terlihat beda, tapi saya tidak munafik dan bertele-tele. Enak didengar (menurut saya) ya udah saya nikmati. Tidak enak ya jangan didengar, sederhana saja.

Keroncong dan gamelan.. mungkin terdengar aneh buat rata-rata orang dizaman moderen. Lagu dan musik tradisional serta keroncong adalah musik yang punya nilai sejarah tinggi. Tidak sekedar sejarah, khusus musik tradisional sampai dengan sekarang masih dipergunakan dalam acara-acara ritual, agama dan kepercayaan. Sudah masuk di lingkaran ideologi setaraf agama. Luar biasa kan? Jadi, masa bodolah dengan argumen moderen dan kemajuan musik. Saya bukan anti kemajuan, tapi kemajaun dalam hal musik itu berbeda dengan kemajuan teknologi (semcam HP dan Komputer). Musik adalah masalah selera. Terserah dan bebaskan sajalah..

Kemudian tentang Jazz?? Karena itu masalah selera jadi mungkin kebetulan saja selera saya sekarang sedang ‘borjuis’. Oh ya, susah juga nih nyari MP3 lagu-lagu Jazz Indonesia. Jadi, koleksi saya masih sekitar itu-itu saja. Kalau ada yang punya, mohonlah kiranya untuk bisa berbagi.. terima kasih ah..


Kostan “Pondok Nadin” Jatinangor, 5 Mei 2008

-----0000-----


Tentang Musik

(ingin sekali) Menonton Konser Musik


Jatinangor hari ini masih sama saja dengan kondisi rata-rata diseluruh Indonesia. Tidak ada perubahan yang terlalu signifikan. Standar saja .. masih cenderung dingin dan ‘menyakitkan’ bagi kaum susah seperti saya. Apalagi dibulan-bulan seperti ini. Ditambah pula ada hal yang membuat ‘lamunan’ saya semakin panjang.

Seorang kawan baik saya (yang menjadikan profesi operator sound system sebagai sampingan hidup, selain dari kewajibannya menyelesaikan kuliah) memberitahu saya tentang konser bertitel TRIBUTE TO GITO ROLLIES -untuk mengenang 100 hari meninggalnya bintang rock legendaris Indonesia; Gito Rollies- di Sabuga. Anda tahu Sabuga? Sebuah tempat konser musik terbaik (menurut saya) di Bandung. Ah.. menyesal sekali saya tidak datang kesana. Ini setelah saya tahu kalau ternyata acara itu free alias gratisan. Kapan lagi orang seperti saya bisa nonton konser bagus di tempat yang bagus dengan cuma-cuma. Apalagi dalam acara yang penuh makna dengan bintang utama group band legendaris semacam The Rollies. Oh.. menyesal sekali diriku.

Sebuah cita-cita (yang cenderung berwujud mimpi) saya adalah menonton konser musik Kla Project, Chrisye, Iwan Fals, Gigi, atau Padi. Saya amat sangat menyadari mereka adalah pemusik dengan kekuatan lirik yang dalam. Untuk itulah saya bercita-cita sekali menonton. Tapi, tentu saja saya tidak ingin sembarang menonton. Masalah tempat bagi saya mungkin rada prinsip. Terus terang saja saya tidak begitu suka menonton pemusik favorit saya itu disembarang tempat. Sasana Budaya Ganesa atau biasa disingkat Sabuga adalah salah satu tempat yang saya rasa cukup pantas.

Dulu saya pernah juga coba-coba menonton konser Slank di tempat terbuka semacam pelataran Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di DU. Ampun deh .. nggak lagi deh. Segala bentuk kejengkelan saya rasakan. Orang mabuk resek, sesak dan bau, sampai gangguan copet yang nggak ketulungan. Bagi saya pribadi, mendingan nonton konser dangdut sekalian. Ya udah .. biar chaos aja sekalian he..he..he..!!

Tapi, apa lacur .. ternyata sampai Chrisye meninggal dunia pun saya tidak pernah punya kesempatan untuk nonton konsernya. Acara TRIBUTE-ya pun tidak. Harapan saya tentulah tinggal pada pemusik lain yang sudah saya sebutkan (yang sampai tulisan ini saya buat masih hidup dan groupnya belum bubar). Masalah terpenting kenapa saya tidak pernah bisa nonton konser mereka adalah harga karcis masuk yang (bagi orang seperti saya) sangat mahal dan jauh dari kemampuan saku saya. Jadi, tentulah anda bisa memaklumi betapa menyesalnya saya ketika tidak hadir dalam acara gratisan yang menampilkan pemusik hebat ditempat bagus semacam Sabuga itu. Aduhai betapa malangnya diriku (begitu kira-kira kalau orang Sumatera bagian Minangkabau dengan logat melayu mengucapkan kata-kata penyesalan seperti itu) yang dikandung badan ini..

Jadi, mohonlah kiranya buat kawan-kawan dan saudara-saudara sekalian yang kebetulan mengetahui informasi ada konser musik gratis di tempat bagus (Sabuga atau tempat yang rada-rada mirip) dengan penampilan pemusik kesenangan saya itu, agar bisa memberitahu saya. Cukuplah yang konser di Bandung saja, jangan jauh-jauh. Jakarta menurut saya sudah termasuk jauh, tidak kuat pula nantinya akomodasi saya kesana. Dengan harga SMS yang mulai beranjak turun mungkin kawan-kawan tidak akan keberatan dan merasa rugi dengan hanya mengirimkan saya sebuah informasi. Tentu saja saya tidak akan bisa membalas kebaikan kawan-kawan, tapi insya Allah saya akan mendoakan kawan-kawan agar senanatiasa berbahagia selalu.. dunia dan akhirat!!


Kostan “Pondok Nadin” Jatinangor, 4 Mei 2008


“ Tulisan ini saya buat setelah saya menerima sedikit cicipan oleh-oleh dari kawan dekat saya, Bung Gilar Nurzaman. Dia bilang kalau oleh-oleh itu didapatnya dari seorang kawan SMP-nya dulu yang kebetulan baru pulang (entah berlibur entah kerja) dari Bali.. hatur nuhun bung, ah.. “



------000-------

Minggu, 04 Mei 2008

Menjadi Hujan


Minta Maaf Kepada Hujan

Itulah.. udah berapa kali aku bilang (pada semesta alam). Yah.. begini kan jadinya??!!
Setelah gerimis pergi (sekali lagi) aku nggak bisa nulis apapun, dingin banget tangan ini.. Kemarin pengin panas, sekarang pengin hujan, sekarang pengin panas, kemarin pengin hujan. Kacau juga nih.. Jadi, aku sekarang mau minta maaf sama hujan, " maafin banget.. karena setiap kali kamu turun, tiba-tiba saja aku jadi sangat manja..".

Sabtu, 03 Mei 2008

Menjadi Gerimis


Jatinangor, 2 Mei 2008


MENJADI GERIMIS


Lagi – lagi.. masih saja tentang gerimis!! Kurang enak tidur mungkin karena jam aktifitas yang sangat tidak menentu. Jam empat atau setengah lima subuh bangun, menjelang maghrib ngantuk berat. Tidur.. Ntar di jam yang sama seperti kemarin bangun lagi. Perut kosong dengan jam makan yang amburadul telah membiasakan organ untuk terus ‘survive’ sendiri.

Mungkin hal yang lumrah untuk siklus hidup orang kebanyakan. Tapi, tentu tidak bagi aku yang menggantungkan kreatifitas otak dan indera penerjemah dari senja dan malam. Peduli setan dengan segala tetek bengek argumentasi tentang hidup yang benar. Objektifitas yang didasarkan pada teori – teori kemapanan. Harusnya aku akan sepakat. Tapi mari kita berpijak pada realita.

Kemarin aku bersama dengan kaumku yang berjalan di aspal yang panas. Tua, wanita, dan anak – anak. Aku nggak bisa berbuat apa – apa. Aku hanya bisa membantu mereka teriak. (Mungkin) sampai gendang telinga mereka yang selalu berteori; PECAH!! Ah.. aku akhirnya curhat dengan seorang kawan baru, yah baru sekali.. Limabelas menit dari perkenalan kami langsung berikrar untuk berkawan. Di dunia maya.. entahlah, apakah dia mengerti dengan apa yang aku ceritakan.

Realita adalah fakta. Maka, tai kucing dengan sudut pandang retorika kemapanan. Entahlah.. Sepertinya Tuhan memang ‘sengaja’ menciptakan realita sebagai sebuah seni yang misterius. Dan aku terus mengalir .. mengikuti realita yang diberikan-Nya. Menjadi gerimis ..


Ah.. sebenarnya tulisan ini terlalu mendayu-dayu (kalau aku nggak diijinkan untuk memakai kata; melankoLis) untuk masuk di bLog ini. Tapi, yah.. begitulah, aku hanya manusia biasa ...


------000-----


Baris – baris dibawah ini sebenarnya didedikasikan untuk beberapa larik puisi yang akhirnya nggak pernah jadi .. keburu ngantuk, ide mentok!! Yah.. sudahlah..