CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Rabu, 08 Juli 2009

MEMUPUK HARAPAN : Catatan Tentang Cita - Cita

" Menantang Matahari "
ilustrasi oleh : sendiri aja walau dibantu si adobe



KISAH KLOSET UNTUK MASA DEPAN


" Jangan gantung cita-citamu di langit, terlalu jauh.. Tapi gantunglah harapanmu itu di langit-langit kamarmu saja. Paling tidak kamu bisa melihatnya setiap kali kamu akan tidur dan ketika kamu bangun esok harinya.. Dengan cara itu kamu akan selalu ingat jika kamu saat ini masih punya cita-cita.. " ('Wahyu yang turun' saat nongkrong di Gerbang Unpad - Jatinangor)

SEORANG kawan saya sangat ‘terobsesi’ untuk menjadi seorang pemain musik. Untuk itulah (menurut si empunya cerita) sejak masih SMA ia beberapa kali bergabung atau membentuk grup musik. Yah, semacam kelompok band kecil-kecilan. Semua mesti punya awal dulu. Seperti makhluk hidup, dari kecil kemudian terus tumbuh besar. Semacam penemuan benda elektronik, dari yang sederhana dulu lalu disempurnakan dan terus mengalami inovasi. Bagai menggali sumur atau kolam, dangkal dulu kemudian dalam atau luas.

Memupuk cita-cita memang mesti sabar sebab nilai perjuangannya terletak dihal yang ada disitu. Masalah tercapai atau tidak bukanlah menjadi akhir segalanya. Alur hidup hakikatnya adalah proses perjalanan dan bukan semata-mata hanya hasil akhir yang singkat. Namun, tentu saja sebuah pencapaian target tetaplah diusahakan maksimal. Cita-cita yang didapat akan memberikan kita pemahaman dan pengalaman juga sebagai petunjuk buat kita sendiri maupun manusia lainnya dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan selanjutnya.

Saat masih SD saya berkhayal menjadi seorang polisi. Wow.. cita-cita yang amat standar untuk ukuran seorang anak ingusan. Terbayang saya begitu gagah berbalut seragam pelindung masyarakat dengan borgol dan pistol dipinggang. Khalayan itu saya pupuk agar menjadi cita-cita sampai SMP. Caranya? Saya masuk menjadi anggota pramuka sampai kelas 3 SMP. Ketika di SMA cita-cita menjadi polisi sudah saya lupakan. Bukan karena saya mendapat cita-cita yang lain, tapi lebih karena pekerjaan sebagai polisi sudah tidak menarik minat saya lagi. Apalagi setelah saya tahu kalau tidak semua polisi bisa punya pistol. Paling juga pentungan. Ah.. kalau cuma sebuah alat pemukul kayu saja sih hansip juga punya.

Menjalani masa SMA saya nyaris tanpa cita-cita. Mengalir saja dengan rutinitas pulang pergi sekolah dan bermain. Menjadi apa nanti? Besok saja dipikirkan, saya waktu itu cuma mau sekolah. Sudah itu saja.. Tapi tidak sesederhana itu menurut ibu saya. Orang sekolah harus menjadi sesuatu ketika besar dan dewasa nanti. Tidak cukup hanya dengan menjadi seperti sekarang ini. Semua harus berubah menjadi lebih baik dan hebat. Paling tidak, nanti bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga. Yaph.. selepas SMA saya menganggur. Tidak ada biaya buat kuliah, ibu belum sanggup setelah bapak meninggal saat saya kelas 3 SMA. Coba melamar sekolah di ikatan dinas pemerintah (ibu sangat menginginkan saya menjadi seorang pegawai negeri), tidak diterima ya menganggur lagi hehehe ..

Dua tahun menganggur tentu tidaklah baik buat otak dan masa depan. Sebenarnya tidak nganggur-nganggur amat sih, ada juga sedikit pekerjaan serabutan. Cukuplah buat beli-beli rokok dan permen hehe.. tapi itu bukanlah pilihan yang baik. Kalau ada kesempatan yang lebih lagi kenapa tidak? Yah, seorang kawan saya dulu waktu SMA pulang liburan dari Jogja. Dia kuliah di kota pelajar itu. Banyak cerita dan saya tertarik. Rayu-rayu ibu dan akhirnya dengan modal pas-pasan saya ikut berangkat ke Jogja. Tidak lama saya sekolah di tanah para Sultan Jawa ini. Cukup 2 semester saja dan setelah itu ibu tidak kuat lagi membiayai. Solusinya? Angkat kaki dan pulang kembali kekampung. Cita-cita untuk sementara ditunda dulu.

Tahun berikutnya saudara di Bogor kasih kabar kerumah. Saya disuruh berangkat lagi ke Jawa (Barat). Cari pengalaman katanya, diam dirumah bikin kelakuan jadi ‘kurang baik’. Oke.. berangkat dan jadilah saya warga Jawa Barat. Alur hidup mengantar saya kemudian ke Bandung. Tujuan ikut teman untuk kerja tapi malah masuk kuliah lagi disalah satu perguruan tinggi negeri di kota kembang ini. Wah.. cerita ini sebenarnya panjang sekali karena ini menyangkut ‘lobi-lobi tingkat tinggi’ ke kampung dengan berbagai kisah lainnya.. haha.. Namun tidak saya ceritakan disini karena saya malas menulis terlalu panjang. Cukup poin pentingnya saja hehe ..

Saat ini saya masih mencari cita-cita yang entah saya sendiri tidak tahu pengin jadi apa. Berbagai pengalaman hidup telah membuat saya merubah cita-cita saya ratusan kali. Sekarang ini jadi presiden mungkin besok ingin jadi pedagang gorengan. Macam-macamlah, saya sendiri juga bingung dan ibu saya ngomel-ngomel. Sejujurnya, sampai tulisan ini saya buat saya belum mendapat pekerjaan tetap. Pekerjaan tetap yang saya maksud adalah sebuah pekerjaan yang punya jam kerja tetap, aktifitas yang dikerjakan tetap, dan gaji tetap dengan tanggal penerimaan yang tetap juga. Setelah lulus kuliah saya malah jadi buruh lepas. Mengerjakan apa saja yang ‘menyenangkan’ dan terkadang mengerjakannya ‘terpaksa’ karena kebutuhan hehehe ..

Melanjutkan kuliah ketingkat yang lebih tinggi dan mendapat penghasilan tetap yang lebih dari cukup adalah cita-cita saya saat ini. Selain itu saya juga ingin meneruskan hobi saya untuk berbagi pengalaman dan ilmu dengan seluruh manusia yang memerlukannya. Tentu saja yang gampang saya jangkau keberadaannya. Saya masih percaya dengan kalimat, “Manusia terbaik adalah manusia yang dalam hidupnya paling banyak manfaatnya bagi orang lain dan manusia terburuk adalah yang dalam hidupnya hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri..”.

Entahlah.. apakah itu benar atau tidak, karena saya kadang-kadang memang sok pintar dan sok tahu. Yang pasti saat ini saya telah bisa membedakan antara cita-cita atau harapan, dan mimpi atau khayalan. Tapi alhamdulillah, sebagai buruh lepas sampai saat ini saya baik-baik saja, walau ibu saya masih saja khawatir setiap kali saya telepon ke kampung. Kapan dapat kerja katanya? Biar cepat nikah dan bisa terus kuliah lebih tinggi.. hohoho… tentu maksud ibu saya adalah pekerjaan tetap seperti pegawai negeri. Maap bu, tapi insya Allah suatu saat nanti.. saya masih membulatkan niat untuk cita-cita saya yang saat ini sudah ada dikepala.



Bandung, 8 Juli 2009
diposting ketika sedang sembunyi karena malas mencontreng pada pilpres 2009





-----ooOoo-----

Selasa, 23 Juni 2009

BERTEMU MENTARI : Catatan Saat Bangun Pagi

" Lelaki Dipagi Hari "
ilustrasi oleh: dari hasil browsing di google.com saja



MENYAPA ANGIN



- Entahlah kenapa .. Namun saya menyadari, bahwa disitulah letak perjuangannya. Bahwa disitulah nilai sebuah perubahan itu akan terasa ..

BEGITU segar rasanya .. Setelah hampir satu bulan berjibaku dengan pola tidur yang begitu amburadul, akhirnya bisa juga menghirup udara pagi buta. Sebenarnya beberapa waktu kemarin saya tidak siang-siang amat bangunnya, tapi sepertinya pukul 10 atau 11 Wib itu tentulah sudah cukup terik. Sebelumnya kondisi normal dengan pola tidur teratur saya jalani, sebelum dirusak oleh berbagai aktivitas yang sangat tidak bersahabat dengan waktu. Maklumlah, mencari rezeki itu berbeda dengan menunggu gaji.

Namun, dalam suasana insomnia menggila kemarin-kemarin itu sempat pula meninggalkan hal-hal yang ‘aneh’. Kenapa aneh? Sebab ada satu atau dua peristiwa tidak disangka tidak dinyana yang dialami. Salah satunya adalah mimpi (tidak diwaktu malam) bertemu dan berbincang dengan seseorang dari masa lalu. Cukup mengagetkan, bunga tidur memang terkadang suka memberikan ‘surprise’ yang membuat kita lupa dengan segelas kopi ketika bangun.

“ Dia berinisial A atau kalau mau dilengkapkan menjadi ANI (tetap inisial). Bersuara lembut dengan tubuh semampai walau tidak sama persis seperti lilin. Mata yang sejernih embun dengan rambut gerimis pagi. Yah, terlalu berkhayal jika saya kemudian akan mendeskripsikan semuanya dengan begitu 'subjektif'. Cukup sudah .. walau sisi romantisme dan kesyahduan penjabaran manusia itu tetaplah sebuah fitrah Tuhan. Untuk saat ini, ia masih menduduki rating tertinggi sebagai inspirasi kesendirian ..”

Memulai sesuatu yang ‘baru’ (dijalani kembali) tentunya harus ada adaptasi (kembali). Kamar kostan ini sungguhlah sangat tidak mengerti jika penghuninya ingin sekali berpola hidup normal. Dengan jadwal istirahat yang tertib selayaknya orang-orang kebanyakan. Tapi lihatlah, rasa malas dan ingin gogoleran alias begelaq selalu saja mendekap setiap saya duduk atau masuk dikamar ini. Entahlah kenapa .. Namun saya menyadari, bahwa disitulah letak perjuangannya. Bahwa disitulah nilai sebuah perubahan itu akan terasa. Terkadang menjemukan jika itu adalah semacam ‘perjuangan’ yang berulang-ulang. Tapi mau tidak mau kita mesti menjalaninya.

Pagi yang renyah dengan mentari yang hangat ramah. Bersiap untuk menjalani rutinitas yang mungkin adalah pengulangan dari hari-hari yang telah lalu. Untuk harapan yang tertunda. Untuk ‘mimpi’ yang terkadang menghampiri. Maka, mari untuk terus berjuang mewujudkannya. Bersama angin pagi dan mentari diawal hari ..



Jatinangor, 23 April 2009





-----ooOoo-----

Rabu, 27 Mei 2009

DIMANA CAHAYA? : Catatan Ketika Sedang Mumet

" Mengadopsi Cahaya "
ilustrasi oleh: sendiri aja



MENCARI CAHAYA



Pada malam kita menyalakan matahari
Kemuning tosca panasnya malah menggigil
Tanpa sadar kita selalu membohongi hati sendiri
Padahal hangat pun tak ada secuil

Ketika siang kita berpeluh menghadirkan cahaya bulan
Temaram yang (katanya) bisa menciptakan impian
Lalu kita menghibur-hibur saja pada kebodohan
Padahal itu (senantiasa) berulang-ulang

Iya..iya.. ada baiknya mulai esok (agar tak lupa)
Koran-koran kita baca judul-judulnya saja
Cukup sudah ditempat ini kita pasti akan terlihat pintar
Ada alasan pula untuk mentertawakan kawan,

Jatinangor, 26 Mei 2009



*******

AKHIR bulan Mei 2009 ini bagi saya sungguhlah memusingkan. Beberapa hal harus dipikirkan dan diputuskan. Tidak main-main tentunya karena ada yang menyangkut hajat orang lain. Tentu tidak baik untuk beridealis dengan egoisme, rasa timbang nurani harus kita jaga. Permasalahannya bisa beranjak kemudian menyentuh level komplikasi. Hhmmm.. aneh juga bahasa yang saya gunakan, hehe..

Beberapa waktu lalu saya ‘dituduh’ sebagai seorang ahli nujum. Dikira bisa berfirman tentang masa depan bagai Tuhan saja. Terpaksa saya sok tahu bercerita tentang rahasia langit yang berkaitan dengannya diwaktu nanti. Baiklah, tak apa.. Saya menurut obrolan mengalir saja bagaimana kawan bisa senang dan saya tidak rugi untuk sekedar bermain peran. Ternyata susah juga untuk meyakinkan orang yang berharap banyak.. hahaha.. Mungkin saya yang tidak punya bakat berteatrikal atau kawan itu memang terlalu pintar. Semacam penganut paham materialistik. Jadi, sebenarnya saya seperti orang bodoh saja jadinya. Dipermainkan atau diuji tingkat kecerdasan, bagi saya keduanya adalah berarti memusingkan.

Beberapa rencana saya kedepan saat ini susah dicarikan jalan keluar. Kemampuan terbatas dan kebingungan membuat saya jadi mutar-mutar ditempat. Ah.. baiklah, ditunggu saja dulu beberapa waktu. Toh, biasanya ada yang disebut dengan ‘keajaiban’. Saat manusia terjebak pada ikhtiar akhir maka insya Allah selalu ada jalan keluar.

Pukul 02.04 pagi dua batang rokok telah punah dan saya sudah ngantuk. Kerjakan saja apa yang harus dikerjakan esok. Mungkin ada inspirasi mengalir disitu.



Jatinangor, tanggal yang sama dengan puisi diatas





--------ooOoo--------

Rabu, 13 Mei 2009

BENDA BERSEJARAH : Catatan Tentang Para Penyimpan Kenangan

" Cincin Kenangan "
ilustrasi oleh: hasil browsing di google.com saja



KURATOR


- Dalam jalinan kenangan itu biasanya ada penanda
yang berbentuk benda. Benda itu punya ikatan
dengan peristiwa yang mengesankan. Saya yakin,
tidak semua orang akan begitu mudah mengakui dengan
kejujuran yang begitu tinggi bahwa ia masih menyimpan
barang kenangannya. Apalagi kalau kenangan itu
adalah sesuatu yang sangat pribadi ..

PADA siang yang cukup ‘dingin’. “Setiap orang sebenarnya adalah kurator, walaupun orang tersebut bisa jadi tidak menyadarinya..”, mantap kata-kata itu terceplos dari bibir saya. Ini mencoba untuk ‘menghibur’ seorang (atau beberapa orang) kawan yang sedang sibuk mencaci-maki para penilai seni. Dimana saat ini (menurut kawan-kawan saya) sebuah hasil karya itu menjadi sangat bernilai tapi tidak dilihat dari sebuah sudut idealisme fungsi dan isi. Tapi lebih kepada nilai makna yang disandarkan pada usia karya, sejarah yang melatarbelakangi lahirnya karya, dan siapa yang melahirkannya. Bukan kepada sebuah arti fungsi dan isi semata. Untuk itulah, jika anda ingin karya anda bernilai tinggi maka tunggulah itu sekitar 150 atau 200 tahun lagi. Saat itulah karya anda akan dipandang bernilai karena (paling tidak) usianya yang sudah uzur. Bisa jadi pula, anda yang menciptakan karya tersebut sudah tidak ada lagi dialam fana ini. Realitanya memang demikian adanya dan kawan-kawan saya itu sangat menentangnya.

Saya bukanlah orang cerdas dan mengetahui segala istilah-istilah aneh (semua orang juga sudah tahu..). Jadi iseng-iseng saya mencoba browsing di google.com, mencoba mencari tahu lebih jauh tentang apa itu kurator. Hasilnya (walaupun saya hanya membaca sekilas-sekilas) adalah istilah itu tidak pernah jauh dari seni dan benda ‘purbakala’. Bermacam penafsiran orang tentang arti kurator. Namun semuanya kemudian bermuara pada bahwa orang yang hobi menyimpan dan memberinya nilai. Istilah gampangnya mungkin; kolektor. Tapi (maap), tentu berbeda dengan debt collector. Yang rata-rata disimpan itu adalah sebuah atau sesuatu yang dipandang bernilai seni tinggi, baik dari sudut pandang pribadi ataupun kolektif. Jadilah kemudian istilah kurator sering disangkutpautkan dengan barang-barang seni. Cukup sudah..

*******

Seorang kawan, pada suatu hari meminta saya membuatkan sebuah video yang berbahankan kumpulan photo-photo kekasihnya. Ceritanya mereka sudah tidak berhubungan lagi dan kawan saya ini ingin membuatkan kenang-kenangan buat mantannya itu. Iseng-iseng saya bertanya, “Setelah klip ini jadi, photo-photonya mau dikemanain? Di hapus aja..?”.

“Oh.. jangan, biarin aja.. mau disimpan jadi kenang-kenangan juga. Yah, untuk sekedar pengingat.. hehe..”. Sedikit malu kawan saya itu nyengir kuda. Jadi aneh karena padahal menurut saya sih nggak perlu malu segala. Soalnya hal seperti itu bagi saya bukanlah sesuatu yang aneh.

Saya kemudian teringat, dulu saya sering menyimpan benda-benda kecil yang saya dapat dari pacar saya. Kadang-kadang pacar saya dulu suka bercanda dengan melempar saya pakai karet gelang atau jepitan rambut. Benda itu kemudian saya ambil saja dan bawa pulang kerumah. Sampai saya putus dengan pacar, benda-benda ‘sampah’ itu masih saya simpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada semacam kekuatan gaib (mungkin saya sebut historis subjektif..) yang membuat saya merasa harus menyimpannya. Entahlah, tapi saya (waktu itu) tak punya kuasa untuk membuangnya begitu saja.

Semua orang pasti pernah mengalami hal yang manis dalam hidupnya. Sebuah rangkaian peristiwa yang akan selalu diingat dan dikenang selama hayat dikandung badan dan selama otak masih normal. Dalam jalinan kenangan itu biasanya ada penanda yang berbentuk benda. Benda itu punya ikatan dengan peristiwa yang mengesankan. Saya yakin, tidak semua orang akan begitu mudah mengakui dengan kejujuran yang begitu tinggi bahwa ia masih menyimpan barang kenangannya. Apalagi kalau kenangan itu adalah sesuatu yang sangat pribadi. Semacam memori kisah cinta saya yang kandas itu (owh.. sedihnya..). Sifat ego manusia memang membuat manusia lebih senang berbohong.

Yah.. manusia memang kumpulan makhluk kurator. Terserah, apakah anda akan mengakuinya atau tidak. Sepakat atau tidak. Namun selama anda masih suka (malu-malu) menyimpan segala benda ‘bersejarah’ yang terkait dengan perjalanan hidup anda (entah bersama siapa atau menyangkut siapa), maka anda tetaplah seorang kurator. Saya pun yakin, kawan-kawan penentang kurator itu pun adalah para kurator juga. Sebab saya yakin mereka pasti menyimpan sesuatu yang berasal dari masa lalunya dan dianggap penuh ‘nilai’. Mungkin juga saat ini kita semua sedang memegang sesuatu yang besok lusa akan menjadi barang bernilai bagi diri kita. Tentu orang lain akan menganggap itu ‘sampah’. Tapi buat kita itu sarat dengan makna yang dalam, sebab ikatan emosionalnya adalah dengan diri kita sendiri dan bukan dengan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan ‘alur’ cerita kita.

Teknologi handphone saat ini juga telah memfasilitasi sifat kekuratoran kita. Lihatlah berapa banyak diantara kita yang sangat hobi menyimpan SMS dari orang yang menurutnya begitu spesial. Hingga ia malah sampai membuatkan folder khusus buat menyimpannya di HP. Walauapun isi SMS-nya terkadang bukanlah sesuatu yang penting untuk disimpan tapi tetap dianggap berharga bagai sebuah prasasti mahakarya dari zaman Majapahit. Semisal; “gi dimn..?”. atau “maap, aq gi bLajar..”, atau “mksih ya td udh dibantuin”, atau “td nLp? Maaf ga kdengeran, da pa ya?”, atau “emangnya siapa aja yang mau nonton”, atau “aduh maap ya aq gi sibuk..”, atau “ga taw..”, atau “gi dirmh, ngantuk..”, atau “apaan sih, males ah..”.

Yah (sekali lagi).. kita semua adalah kurator, tapi kita cukup malu untuk mengakuinya.


Jatinangor, 13 Mei 2009




-------------oOo-------------