CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Rabu, 14 April 2010

PUISI : Tentang Sebuah Roman Senja

" Sehabis Hujan Pada Suatu Senja "
ilustrasi oleh: hasil jepretan Ahmad aka. Amed pake kamera HP



HARI INI DAN ESOKMU .. BUKAN KEMARIN, SAYANG ..
Kepada: SS dan senja di perbatasan


Di kota ini gerimis masih setia menemani ujung musim
Lewat sekelumit angin senja ku sapa seraut wajah yang berkisah
Tentang matahari sebelum hari ini atau tentang hujan yang dulu
Lalu mendengarmu bercerita aku seperti masuk ruang waktu
Bahwa epilogmu telah menghidupkan kembali romansa yang layu
Aku ingat .. aku ingat .. karena aku pun disini setelah ada masa lalu

Matahari hari ini adalah matahari yang membakarmu dulu
Bulan malam ini adalah bulan yang kau pandangi dulu
Angin pagi dan udara senja adalah angin dan udara yang membawamu
(dulu melintasi banyak dimensi yang membesarkan asa)
Semua yang hadir saat ini adalah buah persenggamaan kenangan
Sebuah ingatan tentang ribuan perjalanan
Yang fana namun terkadang mengekalkan titik nadir
(dan keluhan adalah keniscayaan manusia)

Dijalanmu telah kau toreh jejak-jejak pendewasaan yang agung
Setajam belati seharum bunga sekeras cadas atau selembut air
Detik-detik yang mengajarkan duka dan bahagia dalam ragam warna
Jika manusia adalah musafir takdir maka bolehlah kita berdoa
“.. Tuhan .. jangan Kau kurangi sedikitpun segala bebanku yang ada,
tapi kuatkanlah pundak dan kakiku untuk bisa membawa semua beban itu ..”

Hari ini aku menawarkan matahari untuk menghangatkanmu
Malam nanti aku akan menyalakan bulan agar tiada gelapmu
Berjalanlah .. melangkahlah jika matamu masih kau buka untuk dunia
(cahaya ini untuk saling memberi arah)
Sebab hidup adalah saat ini dan esok yang menanti
Bukan kisah kemarin yang telah berlalu menjadi usang
(walau memang tak pernah ada yang sia-sia untuk setiap jejak sejarah)
Dan catatan langit itu tidak akan berhenti hanya pada satu episode saja

Jika setiap harapan adalah air maka biarkan ia terus mengalir pasti
Itu akan membuatnya jauh lebih berarti
Daripada ia harus kering percuma dan hilang dijalan,



Bandung, 11 April 2010











-------ooOoo-------

Sabtu, 03 April 2010

MEMPREDIKSI ANGKA : Catatan Tentang Nilai dan Penilaian

" Santiago Bernabeu "
ilustrasi oleh: dari browsing di google.com saja



MENDULANG TIGA ANGKA


- Realistis yang paling ‘sakit’ sebenarnya adalah diangka satu, karena tentu tidak ada yang bercita-cita kalah alias nol. Walaupun pada sebuah permainan dan ‘permainan’ akhirnya akan ada pemenang dan pecundang, tapi kalau dari awal sudah seperti berharap kalah ya buat apa ikut kompetisi. Mending tidur atau jadi penonton saja .. hehee .. -

BULAN-bulan ini adalah masa semua yang berbau dan berafiliasi dengan sepak bola ‘dinikmati’ dengan begitu gempita. Dari pembicaraan dikamar-kamar kostan sampai iklan media massa. Lihatlah kompetisi Liga Super Indonesia dengan berbagai warnanya, termasuk masalah supporter dan kasus rasisme baru-baru ini yang menimpa striker Persib Christian Gonzales. Lalu tim-tim besar yang tumbang di Liga Champion dan persiapan para tim negara untuk mengikuti Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Negara yang tidak lolos sebagai kontestan cukuplah sebagai komentator dan penonton saja. Cukup adil daripada hanya menjadi pendukung tidak jelas sebab butuh peran yang bisa ‘menasionalisasikan’ jiwa dan perasaan untuk mendukung negara lain yang tidak ada hubungan darah atau ideologi kebangsaan. Cukup rumit jadinya, walaupun sebenarnya nggak juga.

Setiap sisi hidup ini biasanya dimaknai dan ditandai dengan angka. Semua manusia menyukai angka yang disesuaikan dengan keinginan masing-masing dan disebut dengan angka keberuntungan atau hoki. Selain dalam ilmu astronomi atau perbintangan, maka sepak bola termasuk juga yang menggunakan angka-angka dan angka yang sangat digemari adalah angka 3 (tiga). Bukan cuma sekedar digemari tapi dijadikan harapan dan perjuangan sebagai tujuan akhir tiap permainan. Perhitungan poin dalam kompetisi liga menggunakan angka ganjil, yaitu 0 (nol) untuk kalah, 1 (satu) jika seri atau draw, dan 3 (tiga) untuk poin sempurna alias menang. Semua tim akan mengupayakan segala daya dan upaya demi tercapai angka tiga. Realistis yang paling ‘sakit’ sebenarnya adalah diangka satu, karena tentu tidak ada yang bercita-cita kalah alias nol. Walaupun pada sebuah permainan dan ‘permainan’ akhirnya akan ada pemenang dan pecundang, tapi kalau dari awal sudah seperti berharap kalah ya buat apa ikut kompetisi. Mending tidur atau jadi penonton saja .. hehee ..

Hidup adalah sebuah proses memperjuangkan angka-angka. Saya pernah menulis di akun status facebook bahwa saya lebih memilih cinta daripada politik. Dalam arti kata saya tidak ingin menjadikan cinta sebagai politik atau mempolitikkan cinta. Kalau cinta didalam politik itu sah-sah saja, tapi politik didalam cinta? Nggak ah .. maap kawan, ini masalah hati nurani yang berbicara dan bukan sekedar kepentingan semata. Seorang kawan saya pernah membuat tulisan tentang cinta dan sepak bola. Saya menyukai tulisan itu (dengan tanda jempol). Disini saya kemudian ingin mengatakan bahwa cinta dan sepakbola adalah sebuah proses dan perjuangan menggapai tiga angka alias kemenangan atau keberhasilan agar bisa tetap dipuncak klasemen sehingga akhirnya nanti menjadi juara di akhir liga (baca: akhir kompetisi dan hari pernikahan). Semua manusia normal saya yakin juga akan berpikir seperti itu, tidak ada yang ingin gagal dengan angka nol. Tentu .. tapi bagaimana dengan angka satu sebagai tanda seri atau draw?

Saat tulisan ini saya buat, sejujurnya saya belum menemukan alasan atau penjabaran jika dalam hidup kita akan seri. Apalagi dalam cinta dan saya agak mentok mencari argumennya. Lalu saya teringat bahwa hidup adalah sebuah konsep berpasang-pasangan. Siang malam, besar kecil, gelap terang, panas dingin, pria wanita, dan lain sebagainya. Jadi apakah angka satu harus kita tiadakan saja? Saya tidak berani mengatakan iya atau tidak. Layaknya SMS, maka jawaban untuk hal ini mungkin saya pending dulu.

Seorang kawan berkata bahwa, "Tuhan terkadang tidak mengabulkan apa yang manusia minta, tapi Tuhan senantiasa memberi apa yang manusia butuhkan..". Angka tiga, angka satu, atau angka nol semuanya adalah misteri (saya menyebutnya sebagai catatan rahasia langit) sebab hanya Tuhan yang tahu apa yang kita butuhkan. Keinginan bukan berarti kebutuhan dan hidup tidak bisa dianalogikan mutlak dengan sebuah hitung-hitungan klasemen sebuah kompetisi sepak bola. Sedikit rumit juga penjabarannya untuk bisa disederhanakan, jadi mungkin ada yang bisa membantu dengan argumen yang lebih mencerahkan agar kita bisa mendapat jawaban yang mudah dimengerti?



Bandung, 1 April 2010






-------ooOoo-------

Kamis, 11 Maret 2010

PUISI : Gerimis Di Sebuah Kota

" Jejak Pada Sebuah Gerimis "
ilustrasi oleh: dari google.com dan disentuh oleh corelDRAW X4



DERAI – DERAI GERIMIS
Kepada: MSN. dan malam di sebuah kota


Akan tercatat dalam tiap hembusan nafas sepanjang jiwa berdetak
Tetap berjejak pada sepanjang langkah sejauh kaki menuntun
Mungkin senantiasa berbekas menoreh dinding ingatan yang kekal
Kotamu yang basah mencoba merekam episode sebuah cerita
Ketika malam gerimis menikam sebuah penantian

Jalanan menghitam pekat dan aroma senja masih begitu membekas
Akan selalu ku ingat jika pertemuan tetaplah anugerah yang indah
Aku ingat, sayang .. saat kucoba mengurai kata-kata yang kaku
Kuketuk pintu dan salam adalah gairah harapan yang menghentak
Lalu gerimis pun menari saat kotamu menghadirkan sebuah mimpi

Wajah pias diujung doa dalam perjalanan yang begitu sunyi mendera
Ada malam resah meninggalkan basah terbungkam jejak yang gelisah
Dikotamu sebuah kisah telah terpasung dengan jemarimu
Seperti itulah saat dulu kau pernah mengikatnya menjadi harapan
Angin yang meluruhkan dedaunan dan sepotong irama jiwa kembali melebur

Ketika malam gerimis menikam sebuah penantian
Dan helai-helai tetesnya merobek jantungku,





Bandung, 10 Maret 2010 : Pkl. 04.36 pagi





-------ooOoo-------

Kamis, 18 Februari 2010

GENGGAM TANGAN DIDADA : Catatan Sebuah Pertanyaan

" Matahari Menyapa Lautan "
ilustrasi oleh: hasil browsing di google.com saja


MATAHARI DI TELAPAK TANGAN
(Samudera Membekap Dalam Dada)


- Sungguh.. saya tidak ingin matahari akan membakar jalan dan samudera akan menenggelamkan harapan. Saya ingin matahari memberi kehangatan lewat telapak tangan dengan genggaman yang penuh keakraban dan kasih sayang. Lalu samudera akan memberi kesejukan lewat debur ombaknya yang mengiringi angin berhembus di dalam hati dan perasaan sehingga setiap kata yang terlontar akan memberi ketenangan, semangat dan inspirasi yang baik .. –

MENJADI pecundang sungguh tidak enak. Butuh kesabaran tingkat tinggi untuk ‘melakoni bagian’ itu. Seperti halnya epos sebuah kemenangan, maka sejarah juga telah menulis kisah tentang mereka-mereka yang kalah. Paling tidak dari zaman peradaban manusia mengenal ‘pertikaian’ dan cita-cita, maka sejak itulah kalah menang menjadi kosakata manusia dalam kehidupan. Tutur temurun lewat lisan maupun tulisan telah mengisyaratkan berbagai versi eksistensi manusia. Masing-masing tentu menurut posisinya, apakah pemenang atau pecundang. Jalinan cerita yang terangkai menjadi catatan sejarah itu akan dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kebanggaan. Tak ada yang dibanggakan? Maka sejarahnya akan dibuat dengan berbagai ‘sentuhan’ subjektif sehingga terlihat manis. Paling tidak, nggak akan malu-maluin. Begitulah ..

Sejarah adalah subjektif, saya pikir semua orang akan bisa menerima pendapat itu. Objektifitas yang ada lebih kepada waktu, tempat, pelaku, dan rentetan peristiwanya. Namun pesan yang ditekankan pada intonasi suara atau pemilihan kata-kata dalam sejarah lisan tetaplah subjektif. Ini pun berlaku dalam sejarah tulisan, dimana penggunaan kalimat dipengaruhi oleh faktor sejarah itu versi siapa. Pencundang ataukah juaranya. Itulah sejarah dan saya tidak akan berbicara tentang sejarah secara teoritis ilmiah. Saya bukan ahli sejarah ataupun pengamat sejarah. Tapi satu hal yang saya tahu, bahwa tiap-tiap diri manusia adalah pelaku dan saksi dari sejarah hidupnya sendiri. Begitupun saya sendiri juga tentu adalah saksi dan pelaku dari perjalanan hidup saya sendiri, dimana saya menyebutnya sebagai kisah kemarin dan hari ini untuk masa depan.

Episode kali ini telah membimbing saya untuk membuka dan mencoba mengartikan sebuah makna kesabaran dan kesadaran terhadap diri saya. Tidak perlu menganalogikan sebagai orang lain, itu bisa menjadi gunjingan atau bahkan dapat dituduh fitnah (negative thinking mereka menyebutnya dan saya sungguh bingung jika itu adalah fakta..). Apa yang saya lakukan dan alami pada saat ini dan kemarin adalah catatan sejarah saya yang saya rangkai sendiri. Saya tidak malu menyebut ‘takluk’ jika saya kalah, sama seperti saya harus mengucap alhamdulillah jika saya keluar sebagai juara. Tapi tentu kata ‘mengalah’ itu tidak ingin saya lafadzkan, sebab sampai saat ini sejarah itu masih berjalan dan saya belum menyerah (sebelum titik perjuangan penghabisan). Saya masih berharap saya akan keluar sebagai pemenang dengan titel juara dan itu masih saya lakoni ‘pertempurannya’.

Banyak manusia mengalami sesuatu yang mirip de javu, dimana ia mengalami peristiwa yang sama dengan waktu dan tempat yang berbeda. Semua punya nilai masing-masing yang besar kecilnya tergantung dari seberapa jauh ia bisa mempengaruhi sisi-sisi kehidupan manusia itu secara pribadi. Terkadang saya harus banyak mengalah dan menerima apa saja yang ada. Walaupun terkadang rasa benar pada sisi humanis saya tanpa sadar membuat saya sedikit ‘melawan’, tapi kemudian saya akan ‘mengalah’ kembali. Keterbatasan kemampuan dan posisi membuat saya harus menuruti alur yang ada. Disini ujian kesabaran menjadi sesuatu yang harus dipertaruhkan. Saya tidak bisa menolak, kesadaran saya mengatakan inilah bagian saya. Keinginan untuk bisa protes tentulah ada dan saya berharap ada masa dimana protes saya itu bisa diterima dan dapat dianggap sebagai sebuah pertanyaan wajar yang akhirnya mendapatkan ‘jawaban’ semestiya. Bukan cuma saya sendiri, semua orang juga pasti menginginkan hal yang sama. Sesuatu yang lumrah dan manusiawi.

Jika ingin menjadi manusia bijak maka posisikanlah diri kita dalam posisi orang lain. Sebuah filosofi hidup yang sederhana dan kalimat itu saya percaya betul bisa membuat kita bisa mengerti dan memahami orang lain, sebab suatu saat nanti kita pun bisa mengalami hal yang sama. Pastinya kita berharap pada saat itu orang lain akan bisa juga mengerti kita. Tapi ternyata tidak sesederhana itu, karena ternyata tidak semua orang bisa seperti itu. Keegoisan terkadang ternyata telah membuat orang hanya menempatkan dirinya sendiri sebagai individu yang keras. Mungkin itulah salah satu seninya manusia, positive thinking saya mengatakan seperti itu.

“Yah.. memang beginilah saya, mau gimana lagi..?!”, kalimat itu menjadi sering saya dengar. Entah apakah kalimat itu akan tetap dipakai jika posisi manusia itu berada dalam posisi sebaliknya. Seorang guru SD saya dulu mengatakan bahwa, “manusia terbaik adalah mereka yang selalu belajar untuk memperbaiki dirinya..”. Jika begitu, kenapa begitu susah untuk merubah sesuatu yang memang disadari tidak (kurang) baik? Saya berpikir kalau kemudian kondisi ego itu tidaklah mutlak tetap, ia akan berubah tergantung posisinya. Apakah pemenang atau pecundang, apakah sebagai yang takluk atau juara.

Baiklah, semua manusia memang bisa menjadi apa saja. Semua karakter yang dimainkan itu adalah pilihan. Saya cuma bisa berharap diri saya bisa menerima semua itu sebagai sebuah catatan hidup yang membuat saya bisa mengerti setiap delik kehidupan dengan berbagai lika likunya. Sungguh.. saya tidak ingin matahari akan membakar jalan dan samudera akan menenggelamkan harapan. Saya ingin matahari memberi kehangatan lewat telapak tangan dengan genggaman yang penuh keakraban dan kasih sayang. Lalu samudera akan memberi kesejukan lewat debur ombaknya yang mengiringi angin berhembus di dalam hati dan perasaan sehingga setiap kata yang terlontar akan memberi ketenangan, semangat dan inspirasi yang baik. Jika itu terjadi, maka alangkah indahnya sejarah akan bisa ditulis sebagai sebuah cerita yang membanggakan dimasa depan yang indah.

Sederhana berbicara tentang perjalanan, seperti harapan semua orang maka saya juga ingin menjadi bagian yang bermakna dalam kisah yang (ter)baik. Saya menyadari bahwa saya dengan amat sadar telah meleburkan diri dalam cerita perjalanan hidup. Takdir telah mengirim saya hadir tapi bukanlah untuk menjadi duri, bara, ataupun gelombang yang mengganggu perjalanan. Jika seperti itu, bisakah kita membedakan telapak tangan dengan telapak kaki? Untuk menggenggam harapan dan tetap memijak bumi ..



*Sebuah persembahan kepada: matahari, bulan, bintang, angin, hujan, embun, gerimis, pagi, senja, malam, dan pelangi yang begitu saya sayangi ..




Bandung, 18 Pebruari 2010






-------ooOoo-------