CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Selasa, 01 Juni 2010

MARI BERPANTUN, KAWAN ..

" Berbalas Pantun "
ilustrasi oleh: nemu di google.com entah punya siapa




Sekedar pengantar semata ..

MEMBUAT pantun? Hhmmm .. kenapa tidak .. Ide ini muncul begitu saja dan saya langsung merealisasikannya sebagai karya pantun pertama saya. Pantun bukanlah sesuatu yang aneh di negeri ini, setiap orang tentu tahu apa itu bait-bait berbalas yang disebut Sesenggak buat masyarakat Lombok ini walau tidak semua orang (dengan alasannya masing-masing atau berkelompok) akan bisa menyukai pantun sebagai sesuatu yang menghibur. Pantun adalah nama Indonesia-nya dengan begitu banyak nama lain untuk masing-masing daerah. Semuanya bermakna sama, kalimat-kalimat perparagraf yang disusun mengandung arti dengan konsonan yang serupa untuk tiap hurup terakhir pada kata terakhir di tiap kalimat.

Pantun banyak jenis dan peruntukan maupun kegunaannya. Dari pantun nasehat atau pantun religi, pantun perantauan, pantun lelucon, dan pantun muda-mudi atau percintaan. Setiap orang pasti bisa membuat pantun dan saya mencoba menghadirkan karya saya untuk anda. Saya menyebutnya sebagai Pantun Musim Peralihan dengan 2 (dua) sesi, yaitu Sesi Setangkai Kembang dan Sesi Segayung Air. Tidak ada sesuatu yang luar biasa pada judulnya itu. Cuma karena kebetulan saya membuat pantun-pantun ini saat musim hujan tahun 2010 ini mau berakhir dan masuk ke musim kemarau, makanya saya sebut sebagai musim peralihan. Sebagai media atau gaya komunikasi yang variatif dengan ide retorisnya, maka mudah-mudahan pantun-pantun ini bisa dinikmati selayaknya cemilan ringan dengan harapan akan berguna paling tidak sebagai inspirasi yang menghibur untuk kita semua. Semoga saja .. “Petani di Tasikmalaya memanen padi, selamat membaca semoga bisa dinikmati ..” .. hehee ..sip brow ..



PANTUN MUSIM PERALIHAN


(1) Sesi Setangkai Kembang

Beli komputer di Kandaga
Makan tahu di Cikutra
Siapa adik berilah nama
Agar bisa memanggil mesra

Memotong bawang dimalam hari
Hati-hati tangan bisa terkelupas
Jika malam minggu selalu sendiri
Kirimlah SMS tentu akan dibalas

Buah semangka tak mirip buah pisang
Buah durian merupakan buah musiman
Bila anda ingin selalu disayang
Jangan lupa untuk mengajaknya jalan-jalan

Kalau ada beras di Karawang
Kenapa harus membeli ke Purwodadi?
Kalaulah ada harapan yang panjang
Bolehlah kita telpon-telponan lagi

* Bani Hudaya sekarang menjadi pelukis
Menggambar bola kenapa jadi buah manggis?
Aduhai adik sayang janganlah menangis
Tanpa airmata kamu terlihat lebih geulis

Empat tambah empat sama dengan delapan
Kali bagi tambah kurang adalah cara penghitungan
Bila kamu dan orang tuamu mengizinkan
Habis panen aku akan mengirimkan lamaran

Sehabis musim hujan akan datang musim kemarau
Petani merana pada musim pancaroba
Wahai kawan janganlah engkau selalu galau
Sebab cinta yang hilang mari kita cari gantinya

Gelombang dilaut suaranya berdebur
Pelangi munculnya sehabis gerimis
Kenapa susah mata ini tertidur
Selalu teringat wajahmu yang tersenyum manis

Di Majalaya tentu banyak kain beludru
Naik kereta ke Jogja turunnya di Stasiun Tugu
Jangan terlalu lama dirimu menunggu
Tunggulah aku setiap malam minggu

Bintang dan rembulan terangnya dimalam hari
Mencari belut dipinggir kali
Mengejar damri pun kaki ini tak kan sanggup berlari
Jika dirimu selalu saja menghantui

* Ajat Sudrajat dan Gilar Nurzaman bukan tokoh pewayangan
Anggur Merah dan Intisari adalah nama-nama minuman
Hidup ini memang berliku-liku penuh perjuangan
Janganlah terjebak bayangan kenangan tanpa kepastian


(2) Sesi Segayung Air

Jalan-jalan sendiri dikeramaian
Mungkin beruntung bisa berjumpa kecengan
Beginilah nasib orang rantauan
Selalu rindu kawan dan kampung halaman

Pergi ke Cililin lewat Batujajar
Awas tersesat di sekitar Cimahi
Mari kita selalu banyak belajar
Agar menjadi orang berguna dikelak hari

Pergi ke Saung Udjo menonton angklung
Dekat dengan Cicaheum namanya Padasuka
Mencari wanita janganlah bingung-bingung
Dapatkan ia yang bisa mengaji dan paham agama

Memetik mawar awas banyak duri
Bunga semerbak harumnya setaman
Usah tersinggung pantun ini hanya hiburan hati
Pengisi luang saja sekedar penghilang kesedihan



Bandung, 23 Mei 2010
Diposting pada Hari Kelahiran Pancasila 2010




Ucapan terima kasih:
Kepada kawan-kawan dari persada Andalas alias Sumatera yang telah menginspirasi saya untuk membuat pantun dan karena alasan privacy, maka namanya tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

* Adalah nama-nama kawan kerabat saya.







-------ooOoo-------

Sabtu, 22 Mei 2010

SAMBUNGIN AJA : Catatan Akhir Bulan Yang (masih) Basah

" Tiga Arah Tidak Sama "
ilustrasi oleh: saya sendiri dibantu oleh adobephotosop CS2



THREE IN ONE TIDAK NYAMBUNG



- Sungguh, saya kemudian sadar jika saat itu saya sedang tidak menempatkan posisi dengan siapa dan dalam suasana apa saya ngobrol. Akibatnya? Saya ‘ditelanjangi’ oleh sebuah teka teki bocah kecil yang begitu polos .. hehee .. -

SEJUJURNYA saya sedang mendengarkan lagu Manusia Setengah Dewa-nya Iwan Fals saat saya menulis coretan ini. Terinspirasi? Ya, mungkin .. walau tidak seluruhnya berasal dari lagu itu dan yang terpenting adalah tulisan ini isinya antara satu sama lain serasa nggak nyambung, jadi siap-siap aja untuk ketawa miris hehee .. Tapi tidak apa-apa, sebab paling tidak saya bisa menemukan key word untuk dapat masuk di alinea pertama. Lagu itu bercerita tentang kegundahan seorang Iwan Fals (dan mungkin kegelisahan sebagian besar anak bangsa ini) tentang kondisi sebuah negeri yang megap-megap. Semua orang kemudian bermimpi akan munculnya manusia setengah dewa atau semacam ratu adil yang akan memberi kemaslahatan buat rakyatnya.

Tentunya saya tidak akan menulis tentang politik disini. Saya bukanlah pengamat politik ataupun pelaku politik (kalau korban politik sih iya, namanya juga rakyat kecil .. selalu menjadi tumbal politik orang-orang pintar .. heu ..). Kalaupun saya dulu sampai sekarang saya terkadang sok berperilaku politikus kacangan dan sekali-sekali ikut bergerak dijalanan sebagai seorang demonstran, bukan berarti saya seorang politikus. Saya tetaplah seorang yang berperilaku biasa-biasa dan tidak begitu paham politik dengan segala diskusinya yang hebat. Saya sampai saat ini masihlah seorang manusia yang mencari sebuah jalan kehidupan yang bisa membuat saya sebagai seorang manusia yang berguna buat orang lain.

*******

Mengunjungi seorang kawan senior saya di Tanjungsari (sebuah daerah kearah Sumedang), obrolan kami masih banyak bernostalgia dengan kejadian-kejadian masa lalu. Kawan senior saya ini sudah menikah dan punya dua orang anak. Ia saya kenal sebelum saya masuk kuliah di Universitas Padjadjaran. Sambil minum kopi dan merokok kami ngalor ngidul saja, sampai kemudian anak kawan saya yang berumur kurang lebih 6 tahun tiba-tiba datang nimbrung dan bertanya, “Om .. mau jawab teka teki nggak .. Apa bedanya kucing sama ikan?”.

Saya tertawa, “Ikan tidak bisa makan kucing tapi kucing bisa makan ikan .. hayoo ..”.

“Salah, Om .. kucing bisa aja dimakan sama ikan, kan ada ikan hiu .. sekali caplok 3 kucing juga bisa kemakan sama ikan hiu .. hehee ..”, cerdas juga anak kecil ini. Lalu sambil tersenyum polos bocah itu melanjutkan, “Yang bener itu, kalo ikan hidupnya di air dan kucing itu di darat ..”.

Gubrak …!! Hahahaaa .. saya garuk-garuk kepala berhasil dipecundangi sama anak umur 6 tahun. Saya tidak berpikir sampai kesana ketika akhirnya saya sadar bahwa saya terlalu jauh menganggap serius sebuah teka teki anak kecil yang iseng-iseng (mungkin) ingin bercanda dengan saya .. heheee .. Sungguh, saya kemudian sadar jika saat itu saya sedang tidak menempatkan posisi dengan siapa dan dalam suasana apa saya ngobrol. Akibatnya? Saya ‘ditelanjangi’ oleh sebuah teka teki bocah kecil yang begitu polos .. hehee ..

*******

Hari yang cukup hangat untuk ukuran sebuah pagi, Jumat tanggal 21 Mei 2010. Harusnya hari ini saya beranjak kedaerah tengah kota karena ada hal yang mesti saya kerjakan. Tapi janji saya dengan seorang kawan membuat saya menunda perjalanan hari ini. kawan yang saya tunggu belum juga memberi kabar, maka bisa dibayangkan jika saya kemudian ngebango tanpa alasan yang pasti. Entah sudah berapa kali saya mengalami hal yang sama dengan berbagai macam orang. Tapi sudahlah, yang pasti saya berusaha untuk tetap belajar komitmen dengan janji.

Membaca berbagai macam info di koran ataupun berita online di internet sekarang-sekarang ini penuh dengan berita yang berbau politik. Kisah pertarungan Susno Duadji dengan kawan-kawan sekantornya, kemudian tentang karir Sri Mulyani Indrawati yang terus melejit. Lalu berita teroris yang sepertinya tidak habis-habis dan mengenai maneuver-manuver para calon ketua umum Partai Demokrat menjelang kongresnya di Kota Baru Parahyangan Kabupaten Bandung. Semua itu cukuplah untuk membuat koran-koran dan para stasiun televisi tidak kehabisan bahan untuk terus cetak dan mengudara. Disamping tentunya berbagai macam berita lain yang pastinya akan sangat panjang kalau saya jabarkan satu persatu disini.

*******

Ah .. kawan, lama sekali kamu membalas SMS-ku. Kalau nggak jadi saya mau tidur aja, ngantuk euy .. heuheu .. Tidak banyak komentar untuk kondisi segala hal pada saat ini, saya hanya ingin bersenang-senang saja. Terlalu dzalim rasanya saya terus membiarkan diri saya berpikir berat. Untuk beberapa saat kedepan saya ingin fresh dan refresh, sebelum pada akhirnya berjibaku kembali dengan berbagai macam dinamika dan dialektika hidup. Memang sih, manusia hidup itu perlu dan harus untuk berpikir dan berbuat. Tapi jangan lupa, ia juga terkadang butuh bersantai-santai bagai raja .. hehee .. sip ..



Jatinangor, 21 Mei 2010







-------ooOoo-------

Rabu, 19 Mei 2010

KARYA DAN BERKARYA : Catatan Saat Dikejar Deadline Sendiri

" Dari Alam Oleh Alam Untuk Manusia "
ilustrasi oleh: arsip majalah Kable - mas Imamase di Temanggung



PRODUKTIFITAS



- Seorang aktifis buruh akan mengkaitkan itu dengan pekerjaan pabrik. Begitu juga dengan petani akan mengingat padi disawah, tapi beda dengan dokter kandungan sebab dia akan mengkorelasikannya dengan rahim perempuan. Demikian pula dengan berbagai bidang dan hal lainnya. Produksi dan reproduksi pada hakikatnya adalah sebuah proses produktifitas subjek .. -

SUNGGUH, kawan .. Saya menulis kali ini hanya untuk mengejar target. Layaknya seorang wartawan yang dikejar deadline, maka ia harus berjuang keras mencari sesuatu yang bisa ditulis dan nanti akan diceritakan kembali sebagai sebuah berita. Saya saat ini merasa dikejar ‘deadline’ itu, memang tidak ada yang menekan tapi kesepakatan saya dengan diri saya sendiri untuk posting diblog ini minimal 3 (tiga) tulisan dalam sebulan adalah sebuah deadline tidak resmi saya dengan diri saya sendiri. So.. saya pun puyeng sendiri ketika tidak ada ide dan saya mencoba kreatif. Entah sampai dimana kesepakatan ini bisa saya jalankan, sekali-sekali nanti mungkin saya mesti ‘berkhianat’.. hehee..

Sebuah pekerjaan (melakukan sesuatu) memerlukan apa yang disebut dengan daya upaya. Disini faktor sumber daya atau SDM yang dimiliki oleh subjek pekerja sangat dominan sekali. Disamping berbagai alat bantu tentunya, tapi tetaplah yang paling banyak ‘bermain’ adalah kemampuan diri sendiri dari orang yang melakukan pekerjaan itu. Maap, disini saya seperti mengulang-ngulang makna. Harap dimaklumi, saya sama sekali bukan menganggap anda bodoh sehingga saya mesti menjelaskan maksud saya dengan berbagai kalimat. Saya hanya ingin memperjelas maksud dan tujuan saja. Tidak lebih dari itu.

Saat mendengar kata produksi, setiap orang akan bermacam-macam pikirannya. Seorang aktifis dunia buruh akan mengkaitkan itu dengan pekerjaan pabrik. Begitu juga dengan petani akan mengingat padi disawah, tapi beda dengan dokter kandungan sebab dia akan mengkorelasikannya dengan rahim perempuan. Demikian pula dengan berbagai bidang dan hal lainnya. Produksi dan reproduksi pada hakikatnya adalah sebuah proses produktifitas subjek. Produk artinya sesuatu yang dihasilkan, produksi adalah proses untuk menghasilkan sesuatu. Sedangkan produktif merupakan kata sifat dalam menggambarkan tingkat kekuatan produksi. Lalu, produktifitas itu lebih kepada istilah untuk menandai tinggi rendahnya jumlah produksi. Nah.. Sebagai contoh, saya bukan orang yang begitu produktif dalam menghasilkan (memperoleh) sesuatu materi. Sampai saat tulisan ini ‘murudul’, saya masih menganggur yang dalam arti kata tidak punya pekerjaan tetap. Maka saya tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berkesinambungan dan bisa diprediksi.

Baiklah, itu tentang produktifitas saya dalam urusan ‘rizki’. Pada hal lain sepertinya kadar produktifitas saya yang rendah tidak hanya dalam menghasilkan materi yang berbentuk uang itu, tapi juga merembet ke hal-hal yang merupakan hobi atau kegemaran. Seperti halnya menulis iseng, ternyata tingkat kemampuan saya pun sangat pas-pasan malah cenderung susah mencapai target. Lahirnya tulisan yang ini adalah salah satu contohnya, terjadi karena adanya ‘pemaksaan’ ide dalam diri saya. Sekedar mengejar target minimal 3 (tiga) tulisan dalam sebulan, entah itu puisi atau catatan nggak penting yang penting menulis. Hehee .. sangat sederhana sekali, tapi terkadang begitu susah merealisasikannya.

Manusia adalah makhluk yang dilahirkan merdeka dan menjalani hidupnya secara merdeka yang bertanggung jawab (sebagai sebuah pilihan hidup). Koloni yang diciptakan Tuhan dengan asasi yang telah digariskan boleh melakukan apa saja dan ia akan bertanggung jawab sendiri pula. Saya pun (sekali lagi sampai saat ini) masih bebas, merdeka dalam berpikir dan berbuat apa saja tanpa ada tekanan serta intimidasi dari pihak manapun diluar saya. Tapi ternyata kadang-kadang manusia butuh ‘pemaksaan’, dimana ‘pemaksaan’ yang saya maksud itu adalah dari dirinya sendiri agar ia bisa produktif dalam menghasilkan sesuatu yang telah diikrarkannya sendiri. Kesadaran pribadi kemudian menjadi hal yang harus dipegang teguh, agar manusia bisa jujur dan setia terhadap komitmen yang telah dibuat kepada dirinya sendiri. Yah .. begitulah, let’s go .. mari kita belajar untuk produktif dalam apa saja (dan paling tidak) untuk diri kita sendiri ..




Jatinangor, 18 Mei 2010 : Pkl. 05.14 subuh







-------ooOoo-------

Minggu, 02 Mei 2010

PUISI : Dari Titik Api (Renungan Mayday 2010)

" Aksi Mayday 2010 Di Bandung "
ilustrasi oleh: punyanya Fitri Mutyara Sungkar (Album Facebook)


APA KABAR


Apa kabar jelata
Lautan keringat adalah sebuah bukti hidup terus bergerak
Apa kabar kaum pekerja
Aku berteriak dari bibir kelam
Matahari siang tadi cukup membakar telapak kaki
Menggelegak ubun-ubun sejarah yang kering .. sedari dulu

Selewat waktu aku menyaksikan kemurkaanmu
Jelata mengasah harapan dengan kepalan tangan
Sebab kata-kata akan selalu kalah diatas meja perundingan
Retorika dan ribuan istilah akan membuat mulut gagap
Maka saat itulah kaki berderap menghantam barikade kepongahan
Jelata hari ini turun ke jalan dan aku pelan menyapa “Apa kabar?”

Pundak kapalan .. tangan kapalan .. telapak kaki kapalan ..
Buruh menghitung jam kerja dan keringat berbanding upah
Petani mengira-ngira padi menguning diatas tanah juragan
Pemuda miskin mengeja harga sebuah sekolah
Lalu aku terdiam mengemas mimpi di jala rapuh nelayan
Matahari telah jatuh dan bendera masih melambai perlahan

Apa kabar petani Indonesia
Mari bersama-sama kita mendekap letih lelah
Catatan rekomendasi itu kita harap masih ada diatas meja
Agar esok bisa masuk perbincangan kaum berpendidikan
Hingga akhirnya mereka akan bersepakat
Untuk berada di garis perjuangan dan nikmat hidup yang sama

Jika akhirnya semua mereka bikin sandiwara
Maka sudahlah kita bakar saja kota lalu kita rapatkan pagar desa
Dan senjata bukan sesuatu yang harus kita anggap ada,



Bandung - Mayday, 1 Mei 2010








-------ooOoo-------