CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Selasa, 13 September 2011

MENJADI PEMBERANI : Catatan Saat Sakit Gigi

" Peralatan Mencabut dan Membongkar "
ilustrasi oleh: nemu di google dan di edit sendiri


SAKIT GIGI


- Kawan-kawan saya menyukai syairnya, jadi setiap kali ada kawan (termasuk saya) yang giginya mulai ‘demonstrasi’, maka kawan yang lain menghiburnya dengan menyanyikan lagu itu. Lumayanlah daripada manyun .. hehee .. -

SAYA sakit gigi, kawan. Ini pertama kali saya alami, selain dari dulu pernah cabut gigi waktu masih anak-anak tentunya. Tapi itu bukanlah sakit gigi seperti saat ini. Nyerinya luar biasa, kawan. Saya merasa kepala berdenyut-denyut dan leher terasa panas. Sebuah gigi kecil dengan posisi paling belakang seperti merusak segalanya. Gigi yang sakit ini harus dicabut, agar tidak menjadi ‘bahaya laten’ yang membuat saya tersugesti menjadi penakut setiap mau makan.

Dokter gigi itu mahal, kawan. Tapi pemerintah masih cukup baik dengan menaruh dokter gigi di puskesmas. Tentu saja, sebab berobat di puskesmas itu biayanya murah. Namun sebagai rakyat kecil, dokter di puskesmas mengingatkan saya untuk bersabar dengan cara meminta saya kembali minggu depan. Saya diberikan obat generik dan harus diminum hingga habis. Malamnya saya ‘meraung-raung’, gigi yang telah begitu berjasa itu kembali melakukan ‘kudeta’ dan ‘menyiksa’ saya. Apa boleh buat, saya hanya bisa pasrah sambil menunggu ‘pemberontakan’ itu mereda dengan sendirinya.

Seorang penyanyi dangdut yang kini telah ‘bergelar’ almarhum dulu pernah bersenandung, bahwa lebih sakit hati daripada sakit gigi. Kawan-kawan saya menyukai syairnya, jadi setiap kali ada kawan (termasuk saya) yang giginya mulai ‘demonstrasi’, maka kawan yang lain menghiburnya dengan menyanyikan lagu itu. Lumayanlah daripada manyun .. hehee .. Semua orang tentu pernah sakit hati, tapi ‘siksaan’ jiwa tentu beda dengan cobaan pada raga. Saya tidak suka keduanya, tapi sakit gigi terasa lebih menyengat. Menyerang mental juga karena kalau tidak kuat maka bawaannya adalah marah-marah dan kesal tidak karuan. Jadi apa yang harus kita lakukan jika sakit gigi? Sabarlah dan berdoalah serta siapkan mental anda, sebab secara fisik kita pasti akan merasa begitu menderita.


PUISI ANAK SD

Sakit gigi terasa seperti ditikam belati
Sakit gigi bagaikan terbakar api
Sakit gigi aduhai nyeri sekali
Sakit gigi lebih frontal dari sakit hati

Sakit gigi jangan sampai kawan mengalami
Tapi jika akhirnya harus sakit gigi
Ambil hikmahnya dengan bijak bestari
Sebab setidaknya sementara akan melupakan sakit hati,



Bandung, 7 September 2011




* saat coretan ini saya posting, gigi saya sudah di cabut .. terima kasih banyak, Bu Dokter .. dirimu memang juara :)







-------ooOoo-------

Jumat, 09 September 2011

PEMANDU SADAR : Catatan Tentang Alat-Alat Tabuh Yang (mulai) Terlupakan

" Traditional Drum and Guitar "
ilustrasi oleh: airbening21


SANG PENABUH


- Dung .. Dung .. Dung .. / Suara bedug seperti sudah di pinggir telinga / Dung .. Dung .. Dung .. / Dan aku harus bersiap berlomba dengan hujan / Dung .. Dung .. Dung .. / Ternyata hanya degup jantung saja ..-

ADA seorang tua di kampung saya (sekarang beliau sudah meninggal), namanya papuq Juahir. Papuq dalam bahasa Sasak Lombok artinya kakek. Beliau memang sudah tua, bahkan sedari saya masih kecil. Saya kenal baik sebab papuq Juahir sering ke rumah, ibu saya sering minta bantuan mengupas kelapa atau membersihkan rumput di halaman dan lain sebagainya. Bahkan kalau tidak salah ingat, sumur di rumah saya juga di gali sama papuq Juahir. Tak ada yang aneh dengan papuk Juahir ini sehingga saya menuliskannya di paragrap awal. Bukan juga saya mau membuat sebuah catatan in memoriam tentang papuq Juahir. Saat ini saya sedang mengingatnya sebagai seorang penabuh beduk yang handal. Hampir semua orang di kampung saya mengetahui hal itu. Pukulan tiga rentetnya sangat terkenal. Pas mantap pokona mah ..

Anda pasti tahu apa itu beduk, termasuk juga apa yang disebut dengan penabuh beduk. Jika lebaran tiba maka para penabuh beduk akan saling bergantian ‘menghajar’ beduk yang ada di masjid-masjid. Semua orang boleh menabuh beduk, terlepas dari apakah ia seorang yang ahli atau bukan. Itu tak penting sebab intinya adalah kemeriahan saja. Namun di kampung saya, beduk itu telah mulai ditabuh dari malam pertama Ramadhan yang dibunyikan setiap selesai tarawih. Saya pikir itu bagus, sebab setidaknya selama hampir sebulan para penabuh telah mulai latihan agar nanti pas malam lebaran suara tabuhannya sudah terlatih dan enak didengar. Jadi peluang suara beduk akan terdengar ‘tidak merdu’ menjadi agak berkurang.

Kini mari sejenak kita dengar suara tiang listrik yang mulai di pukul-pukul dari jam 12 malam dan berlanjut setiap jam dengan jumlah pukulan yang disesuaikan dengan angka jam hingga pukul 4 pagi. Itu hansip yang sedang jaga ronda. Kemudian ketika terjadi bencana alam atau kondisi gawat darurat kita akan mendengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Lalu apa persamaannya selain dari bahwa itu sama-sama mengandung arti dipukul? Tidak perlu rumit atau yang sulit-sulit, cukuplah hal yang ringan saja bahwa itu berarti pengingat dan ‘penunjuk’. Sesuatu yang luar biasa bukan?! Mari kita obrolkan sedikit sambil ngopi, mumpung masih cukup hangat.

Seorang penabuh beduk, pemukul kentongan, atau pemukul tiang listrik sejatinya adalah mereka yang mengingatkan kita akan waktu atau kondisi yang terjadi. Mereka yang membuat kita sadar bahwa ada sesuatu atau setidaknya bahwa kita harus melakukan apa. Mereka sebenarnya adalah ‘pemimpin’, semacam leader yang memandu kita. Terlepas dari sejarahnya dan ‘sekte’ atau mazhab yang dianut, beduk sejak dahulu merupakan penanda datang waktu sholat. Jadi tidak digunakan hanya saat Ramadhan maupun lebaran saja. Tugas-tugas mulia dari benda-benda itu (selain dari tiang listrik yang ‘diberdayakan’ kemudian oleh hansip) beserta dengan orang yang memukul atau menabuhnya sangatlah mengandung arti yang luhur. Tanpa sadar dan kita harus sadar bahwa kita harus berterima kasih kepada mereka beserta dengan benda-benda tersebut.

Saya disini tidak ingin mengajak untuk melakukan pemujaan terhadap benda atau manusia, cuma sekedar untuk memberi penghargaan saja. Bahwa kita ternyata dalam kondisi tertentu tanpa sadar membutuhkan ‘pemimpin’. Kita dalam waktu-waktu yang ‘bias’ memerlukan pemandu sadar. Namun jangan menyamakan mereka itu dengan seorang pemain drum dengan seperangkat alat drumnya pada sebuah grup band. Itu berbeda tentunya, sebab pemain drum bukanlah pemandu waktu namun hanya pemandu ketukan pada sebuah lagu. Hakikat dan manfaatnya tentu jauh berbeda dengan seorang penabuh beduk, pemukul kentongan bencana, maupun tiang listrik yang dipukul-pukul hansip ditengah malam buta.

Baiklah, kawan .. gelas kopi kita sudah hampir kosong dan sisa kopi dipantat gelas telah mulai dingin. Lewat akhir coretan ini saya ingin mencoba belajar untuk berterima kasih kepada seluruh penabuh beduk di seluruh dunia, termasuk kepada pemukul kentongan di kampung-kampung, dan juga segenap hansip di nusantara ini. Spesial buat almarhum papuq Juahir, semoga beliau mendapat tempat sebaik-baik dan seindah-indah tempat disisi-Nya. Amin ya Robbalalamin .. percayalah, walau tangan-tangan itu pada waktunya telah tak mampu lagi mengangkat pemukulnya tapi suara pukulan beduk atau kentongan dan tiang listrik itu akan selalu terrdengar sepanjang masa. Bertalu-talu dan berdengung dengan indah sampai ke ujung langit.



Bandung, 5 September 2011






-------oooOooo-------

Senin, 29 Agustus 2011

LEBARAN DI KAMPUNG : Catatan Tentang Mudik 2011

" Arus Mudik " ilustrasi oleh: nemu di google


MUDIK LEBARAN 2011


- .. yang pasti mudik adalah sebuah spirit, mudik adalah dimana kita dengan bangga mengatakan bahwa kita berasal dari kampung .. -

LEBARAN 1432 Hijriyah, itu artinya tahun 2011. Tak terasa sudah hampir 12 tahun saya merantau, jauh dari keluarga dan tentu saja jarang bertemu kawan di kampung halaman. Tahun ini saya tidak mudik, banyak hal yang harus saya selesaikan dan semuanya dalam waktu yang berdempet-dempetan (selain alasan bahwa tiket mudik tahun ini ‘sedang mahal’ bagi saya .. hehee ..). Entahlah, apakah saya memang ‘terlihat’ manis bagi sebuah bangku sekolah sehingga bangku-bangku dan ruang-ruang kelas itu selalu saja ‘menakdirkan’ saya untuk tidak pernah jauh dari ‘mereka’. Lalu saya mengalir di koridor-koridor, mengikuti nafas waktu.

Mudik, kenapa kita harus mudik? Tentu saja karena kita adalah orang udik atau dengan kata lain karena kita punya kampung halaman. Sebab lainnya juga mungkin karena kita punya istri atau suami (misalnya) dari tempat yang berbeda dengan tempat kita tinggal saat ini. Itu yang membuat kita harus mudik saat lebaran tiba. Mudik adalah sebuah aktifitas fenomenal. Bayangkan saja orang beratus ribu hingga berjuta jumlahnya bergerak menuju kampung halaman dalam waktu yang bersamaan atau berurutan untuk pulang berlebaran bersama keluarga dan handai taulan disana. Seorang kawan pernah bercerita bahwa ia pernah berlebaran dikampung istri kakaknya, itu hanya karena ia ingin merasakan sensasionalnya sebuah mudik.

Banyak orang yang tidak bisa mudik. Selain tidak punya ongkos dan bekal, maka ada juga yang karena ia memang ‘tidak punya kampung’. Keluarganya tidak ada yang jauh, semua ‘numpuk’ dikota. Jadilah ia berlebaran disitu-situ saja. Tradisi mudik mengajarkan banyak hal. Semangat silaturahmi dan pesan bahwa setiap manusia janganlah lupa pulang seperti kacang lupa akan kulitnya. Selain itu mudik memberikan kita makna akan sebuah kebersamaan dan kesabaran. Bersama-sama pemudik lain bermacet-macetan dan berdesak-desakan, sekaligus bersabar dalam perjalanan. Mungkin semua alasan itu adalah sebuah pembenaran saja, namun semuanya memang sesuatu yang bisa kita dapatkan saat mudik.

Beberapa orang mengatakan bahwa mudik itu membuat banyak masalah. Mungkin benar juga, tapi berpikir seperti itu menandakan kita tidak pernah mengalami mudik .. hahahaa .. atau mungkin tidak berani mudik, sebab belum sukses .. hehee .. yang pasti mudik adalah sebuah spirit, mudik adalah dimana kita dengan bangga mengatakan bahwa kita berasal dari kampung. Orang kota tidak bisa merasakan mudik, hanya kita orang desa yang bisa mudik. Ingin mudik? Mari ikut saya kekampung .. hahaa .. selamat mudik semua, selamat berlebaran .. mohon maap lahir bathin, salam buat keluarga dirumah.



Bandung, 29 Agustus 2011 / 29 Ramadhan 1432 H.






-------ooOoo-------

Sabtu, 23 Juli 2011

RAMADHAN DALAM INGATAN : Catatan Tentang Masa Kecil

" Mesin Jahit "
ilustrasi oleh: nemu di google dan di edit pake adobephotosop


SUARA RAMADHAN
Kisah Dari Kampung

- Jadi suara mesin jahit itu bagi saya sama sekali tidaklah mengganggu, malah irama yang terdengar begitu merdu. Ibu menikmati pekerjaannya .. -

BANDUNG di suatu malam yang gerimis. Mungkin seminggu lebih sebelum hari pertama Ramadhan tahun 2011 ini tiba, saya kurang tahu juga. Kita serahkan saja jadwalnya kepada MUI untuk menentukannya. Tapi yang pasti bulan Ramadhan selalu menjadi ajang para calo tiket kereta dan bis antar kota mulai bekerja. Menimbun tiket untuk dijual kembali nanti mendekati hari lebaran tiba dengan harga yang berlipat-lipat. Yah, biarlah mereka dengan caranya sendiri mencari ‘rezeki’. Semua juga punya ‘kebiasaan’ masing-masing, seperti halnya koruptor dengan strategi tender atau maling kampung yang beraksi saat musim panen tiba dan rentenir ketika masa paceklik.

Salah satu hal yang sering saya ingat tentang bulan Ramadhan adalah ketika saya kecil. Ibu saya adalah seorang yang cukup terkenal bisa menjahit dulu di kampung. Itulah kenapa setiap bulan puasa tiba, maka ibu sering banyak mendapat order menjahit baju. Ibu saya menjahit dengan model tradisional. Mesin jahit yang beliau pakai mereknya “Butterfly” dan sampai sekarang mesin jahit itu masih ada di rumah. Salah satu saksi bisu saya besar dan tumbuh dirumah. Dengan mesin jahit itu saya bisa punya baju lebaran, punya uang saku sekolah, dan kadang-kadang punya uang jajan.

Dulu kalau bulan puasa, saya sering terbangun tengah malam karena suara mesin jahit. Ibu suka menjahit sampai mendekati sahur tiba. Ini bisa dimaklumi karena semua orang yang menjahit ke rumah tentu ingin jahitannya cepat selesai. Saya senang tentunya, sebab kalau banyak yang menjahit baju, maka itu artinya saya akan punya baju lebaran. Jadi suara mesin jahit itu bagi saya sama sekali tidaklah mengganggu, malah irama yang terdengar begitu merdu. Ibu menikmati pekerjaannya.

Kini mesin jahit itu sudah tidak terpakai, hanya teronggok saja dirumah. Ibu sudah tidak menjahit lagi, beliau sudah tidak kuat lagi harus begadang dan matanya sudah rabun termakan usia. Selain itu sekarang orang-orang sudah mengenal mode dan baju-baju siap pakai sudah banyak dijual. Keahlian ibu sudah tidak mempunyai ‘nilai jual’ lagi. Tapi bagi saya, mesin jahit itu selalu ‘bersuara’ setiap bulan Ramadhan tiba dan saya selalu bisa ‘mendengarnya’. Walau hanya dalam ingatan.



Bandung, 23 Juli 2011 Pkl. 03.08 Wib.






-------ooOoo-------