CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Rabu, 31 Juli 2013

LOMBOK : Catatan 2012

" Penjual Kain Di Pantai Kute"
ilustrasi oleh: airbening21


Legenda Pulau Dua Dewi



Rinduku pada Dewi Anjani adalah alunan seruling batang padi yang membelah lembah
Rinduku pada Putri Mandalike adalah hembusan angin laut yang menderu-deru ..

Sepertinya siang telah tegak di ubun-ubun, saat pesawat Garuda Indonesia yang membawa saya dari Jakarta mendarat mulus di Bandara Internasional Lombok (BIL). Ini bandara baru, belum genap setahun beroperasi menggantikan bandara lama di Kota Mataram, Lombok. Penerbangan hampir 1,5 jam terasa begitu cepat. Sepertinya tadi saya hampir tertidur. Penerbangan yang nyaman dengan menu makanan yang disuguhkan pramugari yang ramah didalam ‘perut garuda’ membuat saya tidak begitu berminat mencari makanan di sekitar bandara.

Lombok, sebuah pulau di timur Bali yang ‘di paku’ oleh menjulangnya Gunung Rinjani sebagai gunung tertinggi ketiga di Indonesia setelah Kerinci di Sumatera dan Semeru di Jawa. Dengan ketinggian sekitar 3.726m dpl, maka Rinjani terlihat begitu menjulang. Ada danau di atasnya, yaitu Danau Segare Anak. Mitos menyelimuti gunung yang tiap tahunnya menyelenggarakan kegiatan Tapak Rinjani ini sebagai ajang pertemuan tahunan para pecinta alam sambil bersih-bersih gunung. Tentang seorang puteri yang menjadi penjaganya, Dewi Anjani, yang menurut cerita untaian rambutnya begitu panjang hingga ke pantai selatan Lombok.

Sejenak saya tenggelam dalam kegairahan perjalanan. Tapi saat ini saya ingin segelas kopi sambil mengecek kembali ‘peta perjalanan’. Tak lama saya berpikir, ketika saya telah berada dalam sebuah kedai kopi yang ada disekitar bandara. Beberapa tempat telah saya persiapkan dari Jakarta untuk dikunjungi. Namun saya harus memulainya dari Senggigi. Saya akan menginap di kawasan pantai yang terkenal ini. Dari BIL beberapa alternatif kendaraan bisa dipilih. Diantaranya damri, taksi, ataupun travel lepas yang biasa mangkal di sekitar bandara.

“Travel-nya bisa ditawar kok, Mas. Tawar aja,” celetuk penjaga kedai kopi ketika saya bertanya tentang travel yang mangkal didepan bandara.

Tapi saya ingin mencoba damri. Angkutan publik ini sepertinya menarik untuk saya jajal di Lombok. Dengan tarif 15 ribu rupiah ke Mataram dan 25 ribu rupiah yang langsung ke Senggigi. Damri berangkat setiap satu jam. Dengan inilah saya kemudian meluncur ke Senggigi.

Matahari Terbenam Di Senggigi

Senggigi Beach Hotel. Senja itu saya telah berada disana. Sungguh beruntung saya sore itu. Setelah sedikit beristirahat dikamar hotel yang lebih mirip bungalow-bungalow, saya ingin jalan-jalan. Suasana sekitar hotel yang telah mendapat sertifikat eco hotel ini cukup teduh. Jajaran pepohonan, hamparan rumput, dan suasana tenang.

Sayup-sayup suara ombak senja itu menggiring langkah saya ke pinggir pantai. Ada live music. Manajemen Senggigi Beach Hotel memberi nuansa yang berbeda dengan membuat stage dipinggir pantai dekat bar. Beberapa lagu berirama country terdengar mengalun seperti menyambut ombak-ombak yang memecah pantai. Rata-rata kursi yang disediakan diatas pasir terlihat terisi. Tentu saja dengan bule sebagai mayoritas.

Semakin sore suasana bertambah menarik. Segelas kopi yang saya pesan sepertinya cukuplah untuk menemani saya menghabiskan malam. Seorang tukang tattoo temporary melintas, menawarkan ‘keahliannya’. Tapi sayang sekali, saya tidak terlalu suka menggambar badan.

Di sepanjang pantai para pengunjung cukup menikmati suasana. Senggigi merupakan kawasan yang bebas dikunjungi oleh para wisatawan, tidak dikenakan tarif untuk memasuki area ini, kecuali wilayah-wilayah yang dikelola khusus oleh hotel maupun lapangan golf.

Namun di sekitar stage live music Senggigi Beach Hotel, pengunjung boleh berlalu lalang ataupun sekedar duduk-duduk di pasir pinggir pantai. Pantai ini memanjakan pengunjungnya dengan panorama alam yang indah di pandang mata.

Pengunjung dapat melakukan banyak aktivitas di sini, baik melakukan snorkeling di bawah laut maupun sekadar berjemur menghangatkan tubuh di pinggir pantai. Ombak pantai ini terkenal tidak terlalu besar, sehingga aman untuk bermain air di pinggiran pantai. Namun, apabila ingin berenang di pinggir pantai, berhati-hatilah karena banyak terdapat karang-karang runcing yang bisa membahayakan kaki. Jika ingin mencoba berperahu, kita juga menyewa perahu-perahu bermotor untuk menyusuri keindahan laut. Biaya sewa dikenai harga Rp. 150.000 hingga Rp. 200.000 selama 1 jam. Satu perahu dapat memuat hingga 6 orang penumpang.

Selepas senja rebah dan menghilang, saya pun beranjak kembali ke kamar hotel.

Makam Bintaro, Lebaran Ketupat, dan Batulayar

Ketika saya di Senggigi, bertepatan dengan Lebaran Ketupat, yaitu sebuah lebaran yang menjadi tradisi masyarakat Sasak. Lebaran ini dilaksanakan seminggu setelah lebaran Iedul Fitri. Saya cukup beruntung, karena akhirnya bisa menyaksikan bagaimana tradisi di tempat yang dijuluki Pulau Seribu Masjid ini dijalankan.

Lebaran Ketupat adalah julukan untuk lebaran bagi mereka yang puasa di bulan Syawal. Di hari ini tradisi awalnya adalah masyarakat membikin ketupat untuk disantap bersama-sama di masjid maupun ketika berziarah di makam orang-orang yang dianggap suci. Saya melihatnya lebih tepat sebagai halal bihalal massal. Ditemani oleh Fauzan, seorang kawan dari Lombok Tengah, maka salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Makam Bintaro.

“Saya adalah generasi keempat yang menjaga komplek makam ini,” cerita Haji Ali, seorang juru kunci yang saya temui di Makam Bintaro.

Makam Bintaro ini sejatinya adalah makam seorang Arab yang dahulu datang ke Lombok untuk menyempurnakan Islam di Lombok. Kisah alim ulama yang datang ke Lombok memang banyak. Semuanya meninggal dan dimakamkan di Lombok.

Posisi komplek makam ini berada persis dipinggir jalan menuju Senggigi. Kondisi sangatlah ramai. Disini saya menemukan orang ‘begibung’, yaitu makan bersama-sama dalam satu wadah. Sebuah tradisi makan bersama yang perlahan mulai hilang. Rata-rata peziarah yang datang hampir dari seluruh penjuru Lombok. Selain Makam Bintaro, sebenarnya ada juga makam yang cukup ramai yaitu makam Loang Balok di pantai Ampenan. Tapi waktu yang tidak cukup membuat saya cukup sampai di Makam Bintaro saja.

Masih menurut Haji Ali, pada hari-hari biasa selalu saja ada yang datang berziarah ke makam ini. Namun jumlah peziarah akan membludak pada saat-saat tertentu, salah satunya ya ketika Lebaran Ketupat. Masyarakat akan berbondong-bondong bersama keluarga dan handai taulannya mengunjungi komplek pemakaman yang cukup luas ini. Mereka juga membawa bekal, khas Lebaran Ketupat. Makanan ini disantap bersama-sama di bangunan-bangunan sekitar makam yang memang sengaja dibikin sebagai tempat para peziarah beristirahat.

Tidak jauh dari situ ada Makam Batulayar. Letaknya persis dipinggir jalan mendekati Senggigi. Sebenarnya Makam Batulayar ini sudah masuk wilayah Senggigi. Seperti halnya Makam Bintaro, disini juga dimakamkan seorang ulama terkenal. Menurut cerita turun temurun, Batulayar ini merupakan makam Syeh Syayid Muhammad al Bagdadi yang berasal dari Bagdad. Beliau datang ke Pulau Lombok untuk menyebarkan agama Islam. Setelah agama Islam sempurna Syeh Syayid ingin kembali ke negeri asalnya di Bagdad.

Kemudian penyebar agama Islam ini diantar ke pinggir pantai Batu Layar oleh para muridnya. Setelah tiba di pinggir pantai, Syeh Syayid berdiri di atas batu yang menyerupai sebuah perahu. Namun sekitar setengah jam kemudian datang hujan lebat yang disertai angin dan petir. Pada saat itulah Syeh Syayid menghilang dan yang tertinggal hanya surban dan kopiahnya. Dengan demikian yang dimakamkan di Makam Batu Layar itu bukan jasad Syeh Sayid melainkan kopiah dan sorban yang ditinggalkannya.

Dari Makam Batulayar ini kita bisa memandang pantai dan laut. Cukup menarik untuk kita duduk menunggu sore. Pada saat Lebaran Ketupat, pada makam-makam itu juga ada yang punya tradisi mencukur rambut bayi. Mungkin berharap berkah agar anaknya kelak bisa menjadi baik dalam hal agama.

Hari ini saya betul-betul seperti sedang wisata religi. Berbaur dengan masyarakat lokal Lombok dan mengikuti acara tradisinya. Sebuah kearifan lokal akan arti kebersamaan dalam semangat menghormati tokoh-tokoh dari masa lalu.

Memeluk Putri Mandalike Di Kute dan Tanjung Aan

Jika kita menyebut atau mendengar nama Kute, maka tentu akan terlintas sebuah pantai terkenal di Bali. Tapi jangan harap itu akan terlintas dikepala orang-orang Lombok. Kute di Lombok adalah sebuah nama pantai di bagian selatan. Sebuah kawasan yang masuk dalam wilayah Lombok Tengah dan tahun 2012 ini dijadikan sebagai kawasan Mandalika Resor.

Berjarak tempuh sekira 1,5 hingga 2 jam dari Senggigi. Ini berarti kita cuma butuh waktu hanya 30 – 40 menit saja kalau dari bandara. Bersama kawan Fauzan, saya memasuki kawasan Kute ketika hari menjelang siang. Semilir angin laut menerpa. Disekitar pantai ini cukup ramai. Disepanjang jalan sebelah kiri adalah deretan hotel-hotel dan tempat penginapan lainnya. Harganya? Jangan khawatir, tidak semahal di Bali. Pantainya disebelah kanan, jejeran artshop sambung menyambung.

“Sekarang turis lagi ramai, memang Agustus sampai Oktober itu musim kunjungan wisatawan. Setiap tahun selalu seperti itu,” Nari, seorang penjaga artshop yang saya temui menceritakan.

Pantai Kute adalah sebuah pantai dengan ombak yang relatif tenang. Dalam arti kata sangat cocok untuk berenang bersama keluarga. Namun saya mendengar, bahwa Pantai Gerupuk di ujung jalan Kute ini kearah timur ombaknya sangat disukai para peselancar. Besar dan menantang. Sayang sekali, saya belum bisa sampai kesana. Namun suatu saat nani saya harus mencobanya.

Saya tidak ingin berenang, bersama kawan saya mencoba menikmati suasana dengan duduk-duduk diatas pasir. Beberapa anak penjual cinderamata menawarkan gelang-gelang. Cukup murah, saya bisa menawarnya hingga 5 ribu rupiah. Di sepanjang pantai ada beberapa tempat makan yang dibikin dari bamboo beratap daun kelapa. Agak disayangkan karena malah terkesan kurang tertata rapi, ini mungkin tugas aparat terkait untuk menertibkannya.

Sebuah mitos lama juga ‘menaungi’ pantai wilayah selatan yang eksotis ini. Sebuah legenda tentang seorang putri yang mengorbankan dirinya dengan menceburkan diri ke laut. Setiap tahun diselenggarakan pesta pantai untuk ‘mengenang’ putrid tersebut. Legenda Putri Mandalike, hidup dalam kepercayaan masyarakat Sasak hingga saat ini. Putri yang kisahnya secantik panorama Kute ini diperingati sebagai ajang kearifan budaya lokal Sasak.

Di Kute juga kita bisa melanjutkan perjalanan kearah timur sedikit. Berjarak kurang lebih 5 KM, kita akan menemukan Pantai Tanjung Aan. Pasirnya lebih putih disini. Suasana disini juga tidak kalah indah dengan Kute. Laut biru dan ombak yang berkejaran berirama. Disini juga cocok untuk berjemur. Jadi tidak heran, saya menemukan banyak bule berjemur. Wisatawan lokal juga banyak. Terutama di hari minggu atau saat-saat tertentu, seperti Lebaran Ketupat.

Kalau di lihat-lihat, Tanjung Aan pantainya cenderung seperti landai. Kawasan yang memiliki bukit-bukit kecil yang bisa kita naiki ini berpasir seperti buah merica. Menyenangkan untuk kita membenamkan kaki. Beberapa kepercayaan mengatakan bahwa disini kita bisa mengobati asma. Caranya dengan mengubur diri di pasir pantainya. Benar atau tidak, jika ingin mencoba maka tidak ada salahnya juga.

Pantai Tanjung Aan sepertinya akan masuk dalam kawasan Mandalike Resor. Yaitu semacam kawasan pantai yang dikelola secara khusus. Namun jalan dari Kute menuju Tanjung Aan masih kurang bagus. Walaupun beraspal, tapi banyak lubang. Sepertinya menunggu Mandalike Resor direalisasikan, sehingga paket pengerjaan jalannya bisa bersama-sama.

Saya menghabiskan waktu hampir seharian di Kute dan Tanjung Aan. Menikmati pantai dan segala aktifitas para turis. Berbincang dengan penjaga artshop hingga berjalan-jalan menikmati kawasan yang membuat saya malah merasa seperti menjadi ‘bule’, karena terlihat bule lebih banyak daripada orang lokal .. hahahaa ..

Berburu Cinderamata

Hari ini merupakan hari terakhir saya di Lombok. Beberapa kawan sudah mengirimi saya SMS, isinya sudah bisa ditebak. Minta dibawakan oleh-oleh. Setelah ‘berdiskusi’ sebentar dengan Fauzan, saya memutuskan untuk mengunjungi Sukerara dan Sekarbela. Dua tempat yang menjadi sentra kain tenun dan produksi mutiara.

Sukarara atau Sukerare dalam dialek Sasak adalah sebuah desa di Lombok Tengah. Berjarak tempuh sekitar 1 jam lebih dari Senggigi. Tempatnya menjelang kita masuk ke Kota Praya, mungkin 4 – 5 KM sebelum masuk Praya. Tepat di perempatan Puyung kita belok kanan. Sekitar 1,5 Km kemudian kita akan masuk Desa Sukerara.

Masyarakat di desa ini menggunakan dialek Lombok Selatan. Penduduknya terkenal sebagai pengrajin tenun songket. Sepanjang jalan setelah memasuki desa ini kita akan menemukan artshop sekaligus tempat menenun didepannya. Sebuah berugak atau saung dengan gaya Sasak merupakan tempat buat perempuan Sasak untuk menenun.

Menurut info, dulu menenun adalah aktifitas ketika musim kemarau tiba. Sambil menunggu musim hujan yang merupakan waktu untuk bertani, maka perempuan-perempuan Sasak akan menenun. Di wilayah pesisir, menenun itu adalah aktifitas ketika bulan sedang terang. Saat itu nelayan-nelayan tidak ada yang melaut. Ketika para laki-laki menggunakan waktu tidak melautnya untuk memperbaiki sampan dan jaring, maka perempuan-perempuan juga akan mengisi waktunya dengan menenun.

Kini menenun sudah dijadikan sebagai salah satu sentra pariwisata di Lombok. Jadi aktifitas menenun pada desa yang sudah dibina oleh pemerintah, menenun dilakukan sepanjang waktu. Gayanya masih tetap dengan alat yang tak pernah berubah.

“Kebanyakan yang datang itu berombongan, pakai bis pariwisata,” kata Putre, seorang pemilik artshop tenun “Intan” di sana.

Putre juga menambahkan jika turis mancanegara lebih suka datang sendiri-sendiri. Berbagai macam kain dipajang di tempatnya Putre. Dari yang seharga 70 ribu hingga 5 jutaan. Kita bisa menawar.

“Kalau beli banyak saya kasih harga turun. Tapi kalo cuma satu ya jangan ditawar ya .. hahaha ..”, cetus pria paruh baya ini sambil bercanda.

Kain tenun di Sukerara ini ada yang berbentuk selendang hingga kain panjang. Cukup menarik bagi yang menyukai kain-kain dengan corak etnis. Puas saya berkeliling dan melihat-lihat yang sedang menenun.

Saatnya kembali kearah barat, sebuah tempat lagi harus saya kunjungi. Berada di pinggir Mataram, Sekarbela namanya. Disini merupakan pengrajin perak dan mutiara. Tempatnya tidak luas. Sekitar 500 meter sepanjang jalan disana kiri kanan berjejer toko-toko yang menjual perak dan mutiara.

Harganya relatif murah. Dengan perak berkarat 92,5, maka kita bisa menjumpai aksesoris seharga 10 ribu hingga ratusan ribu. Mutiaranya yang dijual rata-rata mutiara air tawar. Yaitu mutiara yang sengaja khusus dibudidayakan. Harganya murah, perbutir Rp.7.500 rupiah. Tapi jika sudah berbentuk gelang perak, maka harganya menjadi 40 hingga 70 ribu rupiah. Tergantung jumlah mutiara dan ketebalan peraknya.

Bagi yang mencari mutiara air laut, maka di Sekarbela juga ada. Harganya jauh lebih mahal daripada mutiara air tawar.

“Kalau yang air laut itu perbutirnya 100 ribu, Mas .. biasanya yang suka mutiara air laut itu diikatnya sama emas, tapi kalau mau pakai perak juga gak apa-apa,” penjual mutiara tempat saya melihat-lihat kerajinan handycraft itu menjelaskan.

Jika sudah masuk butik, harganya menjadi jauh lebih mahal. Biasanya naik lebih dari 50 persen. Para pedagang mutiara dari luar daerah, terutama dari Jakarta juga banyak yang ‘berburu’ mutiara ke Sekarbela. Mereka biasanya membeli dengan sistem borongan.

Hari sudah lewat ashar, ketika beberapa mutiara sudah saya beli. Perjalanan saya ke Lombok kali ini penuh warna warni. Dari wisata pantai, mendengarkan kisah-kisah mitos, wisata religi dalam kearifan lokal, hingga berburu cinderamata.

Malam pun beranjak kelam di bumi yang ramah ini. Saya sudah mengemas barang-barang, sebab esok hari pesawat Garuda Indonesia akan kembali membawa saya pulang ke Jakarta. Sekilas saya lihat tiket, disana tertulis waktu pkl. 06.55 pagi. Untuk waktu Indonesia bagian tengah tentunya. Tak terasa saya terlelap, pagi buta saya harus segera bergerak menuju bandara untuk kembali ke ibukota. Lombok akan selalu menjadi ‘kekasih’ yang akan saya rindukan.




Lombok, Agustus 2012






*untuk keperluan liputan, maka tulisan ini telah melalui proses sunting tanpa mengurangi esensi dari isi liputan.





-------ooOoo-------

Senin, 09 Januari 2012

SELAMAT BERTARUH : Catatan Seorang Penjudi

"Rhoma Irama"
ilustrasi oleh: asaljangan.com


PERTARUHAN DAN PERJUDIAN


- Tidak seperti orang lain yang sering menang maka saya sering kalah bertaruh dan berjudi, menangnya hanya sesekali saja. Jika bisa menang berturut-turut, maka itu besar kemungkinan saya sedang beruntung. Keberuntungan itu bisa karena lawan main saya ternyata lebih goblok dan tolol daripada saya ..-

HIDUP adalah pertaruhan, begitu saya pernah membaca atau setidaknya mendengar kalimat itu. Anda pernah bertaruh sesuatu? Apa sajalah, walau mungkin sekedar bertaruh dengan sebatang rokok tapi yang pasti itu adalah pertaruhan. Seorang kawan Majenang saya yang berkuliah di salah satu universitas terbesar di Tasikmalaya pernah mengatakan lewat reply komentarnya di facebook, “.. jangan bertaruh dengan wanita, sebab jika mereka kalah maka mereka akan selalu ada alasan untuk ngeles tidak membayar taruhan. Tapi jika mereka menang, maka mau tidak mau kita akan dan harus membayar taruhan itu ..”.

Hari minggu menjelang subuh saya mengetik tulisan ini. Hujan sudah lama berhenti dan sayup-sayup suara adzan pertama dari sebuah atau beberapa buah pengeras suara masjid terdengar. Sekilas suaranya terdengar ngantuk, namun saya menduga jika sang muadzin itu sebenarnya tidak ngantuk tapi dia hanya sudah terlalu tua sepertinya. Bukankah masjid pada waktu subuh itu biasanya hanya penuh dengan orang tua? Baiklah, saya mungkin ‘menuduh’, tapi ‘tuduhan’ saya itu berdasar pada hal yang pernah saya lihat. Jadi tidak ada salahnya jika saya kemudian mengatakan itu.

Dulu saya sering bertaruh, apa saja. Mulai dari judi dadu sampai bertaruh kapal-kapalan di selokan sehabis hujan. Karambol malah pernah membuat saya kecanduan, judi kartu? Walaupun kecil-kecilan tapi cukuplah membuat saya ‘sukses’ sebagai penjudi kecil yang sering kurang modal. Jual piring, kain batik ibu, hingga jual ayam pernah saya lakoni demi memuaskan dan memupuk ‘insting’ bertaruh saya. Sebenarnya saya tidak suka bertaruh, apalagi berjudi. Cuma karena pergaulan ‘alam bebas’ ditambah aktifitas sebagai pemuda desa ‘kacangan’ yang serabutan membuat saya dulu senang berjudi. Hhmmm .. baiklah, saya sedang mencari kambing hitam. Manusia (termasuk saya) memang tak pernah mau menyalahkan dirinya sendiri, setidaknya 25 atau 30 persen orang lain harus ikut salah jika dia salah. Hehee .. sori, brow ..

Semua manusia berjudi dan bertaruh. Saya apalagi, hampir semua hal bagi saya adalah pertaruhan dan perjudian. Bertaruh dan berjudi bagi saya memang agak beda. Bertaruh bisa dengan perhitungan yang begitu matang, namun berjudi? Spekulasi dalam bermain begitu kentara, ‘kita pasang’ maka kalah menang serahkan pada dadu yang bergulir atau kartu yang didapat. Saya bukanlah penjudi yang baik, saya juga bukan petaruh yang selalu beruntung. Disamping karena otak saya tidak bisa berpikir ‘brilian’ (terutama pada judi kartu yang harus bisa ‘membaca’ kartu lawan), juga karena saya terkadang memang malas berpikir. Tidak seperti orang lain yang sering menang maka saya sering kalah bertaruh dan berjudi, menangnya hanya sesekali saja. Jika bisa menang berturut-turut, maka itu besar kemungkinan saya sedang beruntung. Keberuntungan itu bisa karena lawan main saya ternyata lebih goblok dan tolol daripada saya.

Hidup adalah pertaruhan (dan perjudian), saya mengulangi kalimat itu. Sampai saat ini terkadang saya bingung tentang sebenarnya saya memainkan kartu apa dan menggulirkan dadu yang mana. Saya hanya bertaruh diri saya sendiri saja. Mungkin banyak orang lain juga yang seperti saya, tapi entahlah siapa saja yang seperti itu. Sebab saya tidak pernah bertanya kepada kawan-kawan atau orang lain dan mereka juga tidak pernah bercerita kepada saya.

Presiden bertaruh atas dasar nama besar dan orang-orang disekitarnya saat ia bertugas. Paspampres bertaruh nyawanya saat menjaga presiden. Demikian pula dengan menteri, manajer kantor, hingga tukang sapu. Semua bertaruh. Apa yang mereka pertaruhkan? Pekerjaan mereka tentunya. 'Hidup' mereka dan keluarganya ‘diperjudikan’ disana.

Saya pernah melihat tukang becak berjudi kode buntut. Anda tahu kode buntut? Jangan bayangkan itu adalah semacam sop buntut yang banyak dijual di rumah makan. Walau hasil dari kode buntut itu (kalau anda menang) bisa membayar sop buntut untuk satu RT atau satu kampung. Kasihan tukang becak itu, jika kalah maka itu artinya peluh dan keringat mereka seharian langsung musnah ditelan bandar buntut. Harusnya memang tukang becak tidak usah berjudi, sebab berjudi adalah ‘hiburan’ buat mereka yang banyak uang dan bukan jalan untuk mencari uang karena menjadi penjudi bukanlah sebuah pekerjaan. Tidak percaya? Tanyalah kepada semua orang di seluruh Indonesia, apakah ada yang berprofesi sebagai penjudi atau yang KTP-nya mencantumkan pekerjaan mereka sebagai penjudi? Mungkin hanya jika orang itu lagi mabuk maka dia akan menjawab, “.. iya ..”.

Semua hal adalah perjudian, sebab tak pernah ada sesuatu yang tidak kita pertaruhkan .. sekecil apapun itu. Kemarin, hari ini, dan esok saya akan terus ‘berjudi’ dan ‘bertaruh’. Entah apakah pertaruhan itu dalam pertandingan yang saya lakoni atau tidak, saya juga tidak tahu. Sebab perjudian terkadang tidak memerlukan terlalu banyak argumentasi. Namun bisa juga saya katakan bahwa look at our position, apakah kita harus jadi penonton yang baik atau pemain inti atau pemain cadangan atau wasit atau pelatih manajer atau komentator atau penonton radikal atau mungkin tidak menjadi apapun karena kita memang merasa bukan bagian dari pertandingan itu? Lihat jadwal & tiket, agar kita tidak keliru masuk stadion. Sebab jangan sampai kita babak belur pada pertandingan yang salah.

Saya juga tidak bisa menjanjikan jika perjudian dan pertaruhan itu akan selau dan sering saya menangkan, sebab dadunya bukan saya yang pegang dan kartunya terkadang penuh ‘misteri’. Namun yang pasti saya tidak akan bisa atau susah mengikuti pesan Rhoma Irama untuk tidak bertaruh dan berjudi, sebab kehidupan itu bukan di dalam gitarnya si raja dangdut. Tapi ia ada di meja dadu dan di dalam kartu. Setidaknya ia ada di dalam stadion, saat bola terus bergulir dan pemainnya pun terkadang tidak tahu kemana bola itu pada detik berikutnya akan berlari. Jika tidak mendapat piala, mungkin setidaknya kita bisa menjadi Man of The Match. Itu saja .. SELAMAT BERTARUH, kawan ..




Bandung, 8 Januari 2012







-------ooOoo-------

Sabtu, 31 Desember 2011

SEMACAM MEMORABILIA : Catatan Akhir Tahun 2011



SERENADE AKHIR 2011




-.. tanpa hari kemarin, maka kita tak akan pernah berada dihari ini dan hari ini adalah alasan kita untuk mencintai hari esok ..-


AKHIR tahun sedang menghitung jam untuk akhirnya permisi meninggalkan 2011. Berjejak perlahan dan pasti, meninggalkan banyak hal. Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir tahun baru kali ini pun tak akan jauh dari pesta kembang api menyambut tahun yang baru. Ditutup sekaligus dibuka dengan doa-doa serta harapan yang relatif sama dengan tahun kemarin, kemudian disisipi juga dengan refleksi dan evaluasi. Standar dan begitu umum. Kita selalu terjebak euforia momentum, kegembiraan yang entah pertama kali dibentuk oleh siapa hingga seolah-olah kita akan memasuki masa yang ‘aneh’ pada tahun yang baru.

T
ahun 2011 penuh gonjang ganjing. Sebenarnya tidak sedramatis itu juga, sebab peristiwa demi peristiwa yang berlangsung adalah lumrahnya sebuah kodrat alam. Catatan ini bukanlah semacam kaledioskop ataupun analisa satu tahun, itu terlalu luar biasa. Seperti biasa ini hanyalah catatan ringan yang sebisa mungkin ‘direnyah-renyahkan’. Jika masih terasa alot atau liat, ya ‘lembutkan’ saja .. hehee ..

Seperti halnya cerita sepanjang tahun ini. Kita tentu pernah menikmati episode pelarian Nazarudin dan terkenalnya Udin Sedunia, kemudian berakhirnya ‘perjalanan’ Nunun Nurbaeti kembali ke tanah air, kisah asmara luar biasa Angelina Sondakh dengan seorang polisi, hingga pertikaian-pertikaian lokal yang me-nasional. Tentu apa yang saya ‘absen’ diatas hanya sedikit dari berbagai kisah yang terjadi selama kurun kurang lebih 365 hari di republik ini.

Oh ya, sudah pada baca ‘gosip’ di internet? Katanya pak Presiden dapat menantu, terus ada polisi ingin jadi penyanyi, dan tak lupa kisah cinta spektakuler yang bertaburan menghias ruang baca maya kita. Tentu saja tak ketinggalan para selebritis, sepanjang tahun mereka adalah sumber ‘informasi’ (beda tipis dengan isu). Namun yang tak kalah menariknya adalah hujan. Akhir tahun adalah masa buat ‘air kiriman langit’ mengekspresikan diri, entah berbentuk gerimis hingga mengajak angin puting beliung dengan backsound petir menyambar mencipta banjir. Semua mengisi tahun 2011, dengan demikian maka tak ada istilah hari akan sepi. Setidaknya begitulah kira-kira.

Pukul 01.22 tengah malam waktu Indonesia Bagian (bandung jawa) Barat ketika saya mengetik tulisan ini. Suasana sedikit tenang, terdengar lenguh kereta api dikejauhan dengan sesekali diselipi suara motor di luar jalan raya sana. Hujan kebetulan sedang ‘istirahat’, mungkin mengumpulkan tenaga buat malam tahun baru. Merusak setidaknya rencana acara jalan-jalan para ‘pemuja’ euforia momentum. Terbayang mungkin akan ada yang mengomel atau setidaknya menggerutu, walau tidak sedikit juga yang ikhlas dan menikmati saja butiran air yang jatuh dari langit itu sebagai momen yang berkesan juga. Toh setidaknya mereka ada alasan untuk mengatakan, “.. dingin ya ..”, sebagai pembenaran saat harus merasa ‘bertanggung jawab’ untuk memegang tangan pasangannya.

Seorang kawan menulis dalam akun facebook-nya, “.. biarkan aku merindukanmu sepanjang abad, walau terjerat pedih sepanjang hayat ..”. Saya menyukai sesuatu yang seni, termasuk tulisan kawan saya itu. Namun saya mencoba melihatnya dari sisi berbeda, bahwa kawan saya itu menikmati setiap tahun termasuk 2011 ini dengan ‘nuansa’ yang selalu ada rindu menyayatnya. Setidaknya itu yang bisa saya tangkap. Bagaimana dengan 2012 esok? Sudah bisa ditebak, nuansa itu pasti akan ada didalam hari-harinya kawanku itu. Sebab dia sudah mengatakan sepanjang abad sepanjang hayat.

Melencer sedikit ke facebook, anda pasti tahu itu. Jika tidak tahu, maka saya agak bisa memastikan bahwa anda adalah orang yang sama sekali sedang mencoba menjauhkan diri dari peradaban dan dunia sosial. Buat anda yang tahu facebook, saya mengajak anda untuk ‘iseng-iseng’ mencoba mengerti ‘perilakunya’. Dia adalah sebuah ‘kamar pribadi’ yang membuat kita bisa ‘telanjang tanpa sadar’ dan orang-orang di tempat hingga pulau lain atau benua berbeda bisa melihat ‘ketelanjangan’ kita. Tak pernah ada yang privacy di internet, begitu kata orang yang membuat facebook dan kita sering lupa.

Sudahlah, akhir tahun ini tidak banyak yang ingin saya tuliskan. Toh (sekali lagi) sepertinya harapan dan doa semuanya akan relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya, kita jangan munafiklah .. hehee .. jadi saya pikir mungkin kita saatnya belajar membuat resolusi, yaitu sesuatu yang merupakan ‘tekad’ kita di hari esok. Tekad yang lahir dari kenyataan hari ini dan pengalaman dari hari kemarin. Jangan terlalu berandai-andai atau ‘bermimpi’, semuanya yang standar saja. Setidaknya itu akan lebih berarti dari sekedar harapan dan doa yang ‘terucap’ karena pengaruh euforia momentum yang hanya ikut-ikutan karena melihat kembang api dan gegap gempita orang yang merayakan tahun baru.

Kita adalah nafas waktu
Kita adalah derap zaman
Kita adalah lenguh masa


Manusia yang tak pernah benar mengerti hidupnya adalah mereka yang tak pernah tahu kebutuhannya sendiri. Terlalu bijak, tapi saya tidak ingin bijak. Itu cuma saya dapat baca di berita internet. Sama seperti anda .. hehee .. selamat TAHUN BARU 2012 untuk semua dimana saja berada dan beraktifitas, tanpa hari kemarin maka kita tak akan pernah berada dihari ini dan hari ini adalah alasan kita untuk mencintai hari esok. Salam hangat .. nyalakan lenteranya, kawan .. jaga apinya untuk menyala sepanjang tahun selama hayat hingga batas abad, itu lebih dari sekedar kembang api!



Bandung, 31 Desember 2011




Ket: ilustrasi oleh airbening21, lokasi kebun teh Malabar - Pangalengan, April 2011







-------ooOoo-------

Minggu, 16 Oktober 2011

MENJADI 'BAJINGAN' : Catatan Sebuah Penilaian

" Si Badjing "
ilustrasi oleh: nemu di google aja


YANG TERLUPAKAN
(minjem judul lagunya Iwan Fals)


- Tak usahlah kita terlalu menggunakan topeng, cukuplah kita bisa menempatkan diri kita seperti apa dan dimana serta bersama siapa kita saat itu .. -

MALAM masihlah jauh dari tua, sekira pukul sepuluh kurang. Untuk ukuran kota besar, maka itu termasuk ‘sore’. “.. jadi bagaimana, menurut kamu seperti apakah orang kayak aku ini?”, angin berhembus agak dingin saat kulontarkan pertanyaan iseng itu. Setengah berteriak dia menjawab, “kamu bajingan!!” dan aku tertawa keras. Entah pikiran apa yang melanda perempuan itu sehingga pola pikirnya membuat ia memberi jawaban yang aku kira aneh.

Ia belum lama kukenal dan aku ‘menjailinya’. Lucu memang dan sangat amburadul. Aku berusaha membuatnya tertawa dan ia cukup senang. Ini terlihat saat ia mengucapkan kata bajingan sambil tertawa juga sesudahnya. Aku setuju sama dia bahwa tak boleh ada beban, sebab semua harus mengalir. Senantiasa membagi kegembiraan kepada setiap orang sesuai dengan jenis kelaminnya adalah hal yang penuh improtitatif. Tentu saja dengan cara masing-masing, walau itu kadang-kadang terkesan tolol.

Laut adalah perempuan
Bumi adalah perempuan
Air adalah perempuan

Samudera juga perempuan
Tanah juga perempuan
Rembulan juga perempuan

Dan selebihnya hanyalah sepi
Dan selebihnya adalah sepi,

(SAJAK PEREMPUAN - Bambang Trismawan)
Di laut kita jaya, di darat kita buaya. Seorang kawan mengatakan itu. Aku tahu kawan itu bukanlah semacam ‘buaya’ bagi lawan jenisnya, namun daya kreatifnya telah memberikan semacam inspirasi kata-kata buat orang lain lewat kemahirannya beretorika. Tak usahlah kita terlalu menggunakan topeng, cukuplah kita bisa menempatkan diri kita seperti apa dan dimana serta bersama siapa kita saat itu. Maling atau copet yang beretika tidak akan pernah mencuri dalam keramaian hajatan rumahnya sendiri.

Masuk kandang kambing maka bisalah mengembik, kawan .. tapi jangan jadi kambing. Aku bukan seorang yang agamis, bukan pula seorang atheis. Aku adalah pejalan yang mengalir dan biarlah perempuan itu mengingatku sebagai seorang bajingan. Walau aku yakin, ia sendiri tidak akan pernah mengerti mengapa ia sampai menyebutku seperti itu. Biarlah .. tidak usah dipikirkan, sebab setidaknya malam itu kami bisa tertawa lepas.



Bandung, 30 September 2011







-------ooOoo-------