CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Sabtu, 31 Mei 2008

Puisi Penantian dan Perkenalan

SEBUAH PENANTIAN

Kepada: Purnama (yang hilang) Di Akhir Mei

Purnama akhir bulan ini aku berharap akan jadi saksi yang agung
Tapi entah kenapa ia tak kunjung juga bersolek
Seperti waktu-waktu sebelumnya

Menatap langit lalu aku mencoba memahami detak
Oh.. Seperti ada jeda yang telah melompat
Aku merasa ada titik-titik yang terlewatkan?

Pekat ku dekap dalam mata bening cahaya sabit
Pekat yang tetap saja selalu ku anggap seumur bayi
Dan ku manja hingga mendekati garis nadir

Dalam diamku hingga malam lalu jadi semakin tua
“ Disini tiba-tiba saja aku terjebak pada sudut kosong ..
Sebuah lorong waktu yang hampa dan aku kembali merasa sunyi ..
“.

Gerbang Unpad – Jatinangor, 26 Mei 2008


PANDANGAN PERTAMA

Pernah satu atau dua kali saja aku mampir di kota ini
Tapi baru tadi malam sampai pagi ini aku bisa menikmati nafasnya
Dengan ranum embun galunggung
Yang hinggap di ujung senyum

Kota yang renyah segurih tawa jelita
Kota yang gelisah dara rindumu

Ceritamu 26 tahun lalu memanggang abu
Memuntahkan asap dan lahar
Mungkin sebagai salam kenal saja
Untuk basa basi tentang tanahmu kini yang resik.

Tasikmalaya, 27 – 28 Mei 2008

Rabu, 21 Mei 2008

Aku Menyebutnya "SMS Yang Tak (belum) Pernah Terkirim

SEBUAH INSPIRASI DAN KARYA DARI RIBUAN RENUNGAN YANG MENJELAJAH WAKTU

“.. pergulatan yang panjang.. dalam kesunyian..” (Ebiet G.Ade)


Selama bertahun-tahun semua SMS ini nyatanya tidak ada yang pernah bisa aku kirimkan. Dengan sedikit keberanian yang terkadang ceroboh, mungkin sekitar dua atau tiga pernah juga muncul diponsel’nya’. Namun, HP bututku memang tidak pernah mengirim semuanya. Ia hanya bisa mengetik dan menyimpannya kembali dalam ‘tubuhnya’ yang lusuh tergerus kenyataan.


“Sebutir pasir yang larut dalam segelas embun.. Sekuntum bunga kangkung ditelaga.. Satu cinta yang lahir sebagai dongengan.. Persis seperti senyum yang dipaksakan..” (Bandung, September 2004)

“01.30 beri embun, 01.30 lepas resah, 01.30 bawa rindu, 01.30 berbisik.. Tidurlah, nanti kuberi kau mimpi-mimpi yang indah karena esok kau harus melihat mentari..” (Jatinangor, 19 Januari 2005 Pukul 01.30 malam)

“Puisi adalah kata-kata yang suci bagi sekeping nurani. Dalam bahasa yang terkubur.. lapuk. Puisi adalah debu dan angin yang diam. Puisi adalah diriku sendiri..” (Jatinangor, 23 April 2004)

“Keinginan adalah seribu harapan yang lahir dari fitrah Tuhan.. Tapi, mimpi adalah seribu kesalahan yang hanya pantas ditertawakan..” (Bandung, 10 Maret 2004)

”Malam ini hujan kembali memetik daun. Tes..tes..tes.. dan satu rindu kembali hancur. ‘ilalang’.. basah, basah yang kini hilang.” (Bandung, 4 Maret 2004)
Tidak disangka SMS ini telah memberikan sebuh inspirasi hingga akhirnya tahun 2008 ini aku membuat sebuah blog: ilalangmerah.blogspot.com, walau memang tidak nyambung tapi tetaplah inspirasi itu telah menghasilkan sebuah karya..

“Seperti rinai yang kemarin. Dipucuk ranting ada saja tetes-tetes yang jatuh. Retak-retak malam telah dipaksa untuk terus menunggu pagi. Tapi senja juga bukan rindu yang mesti dibuang..” (Bandung, 2003)

“Harapan adalah luka. Resah seorang pengecut yang sok berani dan kadang-kadang nekat. Setiap subuh ia setia menyapa embun di ‘ilalang-ilalang’. Tapi harapan tetaplah sebuah luka.” (Bandung, 2004)

“Semua manusia berhak bangga pada dirinya sendiri. Tapi, ingatlah bahwa sesungguhnya tidak pernah ada manusia yang tak tergantikan.” (Pelabuhan Bakauheni, 24 Januari 2005)

“Kematian adalah hal biasa dan bukan sesuatu yang menakutkan.. Tapi hidup yang tak bermanfaat adalah hal luar biasa dan paling mengerikan..” (Bandung, 1 April 2004)

“Diperbatasan ini telah kutoreh cinta pada satu nama. Pada kobar-kobar unggun. Tapi, bukan itu alasan untuk berdiang. Ada senyum yang lebih dari sekedar cahaya..” (Kiarapayung, 21 Agustus 2004)

“Jangan pernah mundur didepan kesulitan. Majulah saat kondisi mengijinkan. Jika kondisi tidak mengijinkan, ciptakan kondisi tersebut..” (Pelabuhan Bakauheni, 24 Januari 2005)

“Saat rasa telah mengalir dalam darah, maka jantung akan terus memompa nadi untuk senantiasa mengucapkan kata-kata yang sama. Detak.. arti dari satu perjuangan.” (Puncak – Bogor, 19 Mei 2004)

“Matahari yang tadi adalah sunset yang bias. Bulan saat ini adalah subuh yang merayap pergi. Ada bintang-bintang yang lenyap tanpa kata-kata. Mendera langkah-langkah diujung mimpi. Tapi mimpi malam ini adalah puisi, angin, serta debu yang diam. Seperti aku, karena puisi adalah diriku sendiri.” (Kiarapayung – Jatinangor, 4 Juni 2004)

“Mestinya aku paham dengan rahasia matamu. Dalam dan lepas seperti lautan, indah sekaligus mematikan. Dan kata-kata yang kini lahir terhempas adalah badai yang (selalu) ku buat sendiri..” (Jatinangor, 2006)

“Desah ujung pena seperti mata pedang. Ah.. udara begitu dingin disini. Ternyata begitu sukar membunuh sepi dan bayangmu tetap saja tak mau pergi..” (Bandung, 2004)

“Kebahagiaan dalam hidup bukanlah dengan selalu mendapat atau memiliki yang terbaik. Tapi, kebahagiaan sebenarnya adalah dengan selalu menjadikan segala yang hadir dalam hidup sebagai yang terbaik..” (Jatinangor, 14 Januari 2006)

“Manglayang malam ini seperti perawan yang tertidur.. pulas dan lugu. Ada ribuan bintang menari. Dan jiwaku malam ini adalah kabut hangat yang menguap..” (Kiarapayung, 19 Juni 2004)


Inspirasi terbesar dari semua SMS ini adalah lahirnya: airbening21.blogspot.com, terima kasih kepada semua yang telah menjadi bagian dari inspirasi dan karya ini..

(Jatinangor, 21 Mei 2008 pukul 05.48 pagi)

Rabu, 14 Mei 2008

Sebuah Pertanyaan Dalam Segelas Kopi

Seorang Kawan Bertanya



Gerbang Unpad pada suatu malam yang hangat. Maksud saya disini adalah hangat dalam arti kata sebenarnya. Tidak seperti beberapa malam terakhir ini. Pancaroba, orang menyebutnya, terasa begitu menggila dari tahun-tahun sebelumnya. Dingin menusuk tulang seolah ingin selalu mengingatkan kita bahwa pada tahun ini musim hujan telah berakhir dan musim kemarau telah diambang pintu.

Temperatur kehangatan kami waktu malam itu digerbang terasa semakin ‘naik’ dengan obrolan yang tambah ‘panas’. Ha..ha..ha.. Jadi ingat dengan seorang kawan yang menjuluki saya ‘dinamit’. Terlalu bersemangat jika bicara dan gampang meledak hhoo..ho..hoo.. padahal saya merasa diri tidak lebih dari hanya sebuah petasan kecil yang sering dinyalakan anak-anak sambil menunggu bedug maghrib di bulan Ramadhan.

Dari sekian banyak obrolan yang sebenarnya menarik saat itu, ada satu yang membuat saya terkadang merenung-renungkan. Bukan tema yang panjang tapi hanya semacam pertanyaan saja.

“Jika hari ini adalah hari minta maaf sedunia, kepadakah siapakah ente akan minta maaf pertama kali?”.

“Jika hari ini adalah hari terima kasih sedunia, kepadakah siapakah ente akan berterima kasih pertama kali?”.

Sederhana dan terlihat tidak begitu penting. Namun setelah beberapa lama ternyata menarik juga. Saya seperti melihat sebuah pertanyaan yang lain walaupun dalam konteks yang tidak begitu jauh.

“Sudahkah dan seberapa seringkah kita berterima kasih dan meminta maaf terhadap orang-orang terdekat dan mereka yang kita anggap berperan atau membantu kita dalam menjalani segala aktifitas hidup ini?”.

Untuk dua pertanyaan pertama diatas, saya membagi konteksnya menjadi dua juga. Jika saya menempatkan diri sebagai makhluk yang bernama manusia maka saya harus dan semestinya berterima kasih serta minta maaf pertama kali kepada Allah SWT Sang Pencipta dan Pemilik Jiwa dan Kehidupan Segenap Alam Semesta Raya. Alasannya? Saya pikir semua orang sudah tahu. Namun apabila saya berposisi sebagai makhluk sosial maka pertama kali saya pasti akan berterima kasih dan meminta maaf kepada orang tua saya terutama Ibu. Alasan yang semua orang juga tentu sudah mahfum.

-----000-----


Tanggal 12 Mei 2008 malam sekitar pukul setengah sembilan saya mengirim SMS kepada seorang kawan. Ia adalah orang yang dulu pada malam itu pernah melontarkan pertanyaan iseng dengan bercanda tentang masalah maaf dan terima kasih.

Salah satu hal yang begitu nikmat dalam hidup ini adalah saat kita makan dalam kondisi yang lapar banget dan kemudian membayar makan cuma Rp.2.500,- saja.. Terkutuklah harga BBM yang naik 30% mulai tanggal 1 Juni dan para pendukugnya!

Memang SMS saya itu tidak jelas mengucapkan terima kasih kepada siapa. Oleh karena itu saya disini ingin mengucapkan terima kasih kepada Warung Nasi Doa Ibu atau yang biasa disingkat Doi atas harga makanan yang sungguh murah. Untuk menu yang biasa saya ‘sikat’ berkisar antara Rp.2.500,- sampai Rp.3.500,- saja. Malah beberapa kali saya hanya membayar duaribu perak kepada warung nasi yang bertempat di dekat kostan Pondok Nadin Ciseke - Jatinangor ini he..he..he. luar biasa! Khusus untuk malam saat saya mengirim SMS itu saya mengucapkan terima kasih kepada Warung Nasi Angkringan pinggir jalan raya depan Toko Photo ALFA sebelah kantor Camat Jatinangor. Menu seharga 3.000 rupiah malam itu sungguh nikmat sekali. Halah..alah.. segelas kopi hitam dengan banderol seribu perak dari Warung Tenda Cita di Gerbang Unpad adalah ucapan terima kasih berikutnya yang begitu tulus dalam kepulan asap sebatang rokok. Ah.. Nikmat sekali tiba-tiba suasana malam yang begitu dingin ini.

Untuk permintaan maaf? Sepertinya kaum kapitalis birokrat dan swasta yang layak untuk saya mintakan. Dengan kenaikan harga BBM ditengah kondisi ekonomi masyarakat yang begitu terjepit, maka izinkan saya minta maaf karena telah MENYUMPAH-NYUMPAHI anda semua. Semoga anda bisa mengerti kenapa orang-orang seperti saya ini tiba-tiba sangat muak dengan anda.


Jatinangor, 13 Mei 2008

Kamis, 08 Mei 2008

Bercanda Dengan Kenangan Lewat Buku dan Lagu

MENCARI (kembali) INSTING


Sudah sekitar 3 (tiga) hari ini saya membaca “ Ada Seseorang Di Kepalaku “. Buku yang saya pinjam dari seorang kawan. Saya tidak tahu apakah buku ini keluaran terbaru atau bukan, sebab kumpulan cerpen karya Akmal Nasery Basral dari IMPERIA ini cukup asyik juga untuk dijadikan ‘cemilan’ sambil ngopi. Dengan bahasa yang lumayan ringan membuat naluri saya kadang tenggelam dalam khusyuk. Tapi, ketika mengetik tulisan ini saya akhirnya memilih lagu – lagu dari Panas Dalam sebagai backsound. Celotehan berirama dari para dosen muda yang masih tetap setia nge-band ini cukup ampuh juga untuk mengajak jari – jari saya mengocok keyboard komputer. Buku dan musik yang punya karakter cukup berbeda. Nggak apa-apalah, bukankah Tuhan menciptakan alam semesta raya beserta dengan segala isinya ini dengan berbagai macam perbedaan sebagai warna-warni kehidupan yang indah. Demokratis sekali..

Sebenarnya (sungguh mati).. Saya saat ini ingin (sekali) menulis puisi. Kenapa puisi? Sebab selain puisi, belakangan ini tidak ada yang beres saya tulis. About The Women dan Pengamanan Lokal adalah 2 (dua) judul tulisan –yang saat ‘keinginan’ ini saya ketik- yang masih berbentuk se-paragraf saja. Susah sekali saya lanjutkan ha..ha..ha.. luar biasa sekali. Kadang-kadang memang keinginan saya terlalu menggebu-gebu untuk menuangkan isi otak, tanpa mengukur kondisi tentunya. Kalau dalam keadaan ‘fit’ sih nggak apa-apa. Bukankah tidak semua isi otak itu bisa dituliskan? Sebab memang ada yang hanya cocok untuk diceritakan secara lisan saja. Tidak berbentuk huruf-huruf merangkai kalimat dengan segala aturan penulisan yang baku dan sesuai dengan EYD. Ah.. pusing kepala nih! Segelas kopi dan dua batang rokok ternyata tidak cukup untuk mengantarkan tulisan ini sampai selesai. Jadi? Ya selesaikan saja sampai disini. Gampang kan hhooo..ho..ho.. yo ah, maaarriiii..





*BERCANDA DENGAN KENANGAN
.. sudah jangan ke Jatinangor .. dia sudah ada yang punya .. (Panas Dalam)


Tentang tetes-tetes bening yang hadir setiap pagi
Maka, Tuhan memberi nama engkau embun
Karena dingin berbentuk awan yang turun paling rendah
Maka, Tuhan memberi nama engkau kabut
Serupa selendang bidadari yang mengikat angkasa setiap habis hujan
Maka, Tuhan memberi nama engkau pelangi
Sebab menyapa pasir pantai dan membawa pesan dari samudera
Maka, Tuhan memberi nama engkau gelombang
Sebab memberi sejuk dengan aroma wangi terjauh sekalipun
Lalu, Tuhan memberi nama engkau angin gunung sepoi

Seperti biasa ..
Desah cerita itu hadir dan menggebrak lorong-lorong lamunan
Mengepul tak mengenal batas waktu
Menggulung sekaligus menyeret
Dan memberi warna-warni tentang duka dan terkadang bahagia

Untuk itu ..
Tuhan pun memberi nama engkau KENANGAN
(yang pahit) dengan berbisik aku menambahkan
*Dan luka yang mulai mengering
Selalu terkoyak kembali..


(Jatinangor, 8 Mei 2008)



Sedikit (saja) keterangan :
*Dicomot dari sebagian cerpen “Ada Seseorang Di Kepalaku” karya Akmal Nasery Basral. Cerpennya sendiri berjudul “Dilarang Bercanda Dengan Kenangan”. Keparat buat Ipang dengan lagu Sekali Lagi.

Thanks to syair dan nada pada “Segelas Kopi, Segitiga Merah Maroon, Gundah Gulana Pacar Aktivis, Tong Gandeng, Unpad, Inipun Kasih Sayang, Jatinangor oh Jatinangor” dan beberapa tembang lain didalam album Panas Dalam. Selain itu terima kasih juga untuk beberapa nyanyian dari Malaysia yang telah membuka waktu pertama mengetik. Berkat lagu-lagu itu (paling tidak) akhirnya sebuah puisi selesai juga, walaupun sangat mentah dan kacau. Tak apa-apalah he..he..he..





------0000------