CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Kamis, 11 Maret 2010

PUISI : Gerimis Di Sebuah Kota

" Jejak Pada Sebuah Gerimis "
ilustrasi oleh: dari google.com dan disentuh oleh corelDRAW X4



DERAI – DERAI GERIMIS
Kepada: MSN. dan malam di sebuah kota


Akan tercatat dalam tiap hembusan nafas sepanjang jiwa berdetak
Tetap berjejak pada sepanjang langkah sejauh kaki menuntun
Mungkin senantiasa berbekas menoreh dinding ingatan yang kekal
Kotamu yang basah mencoba merekam episode sebuah cerita
Ketika malam gerimis menikam sebuah penantian

Jalanan menghitam pekat dan aroma senja masih begitu membekas
Akan selalu ku ingat jika pertemuan tetaplah anugerah yang indah
Aku ingat, sayang .. saat kucoba mengurai kata-kata yang kaku
Kuketuk pintu dan salam adalah gairah harapan yang menghentak
Lalu gerimis pun menari saat kotamu menghadirkan sebuah mimpi

Wajah pias diujung doa dalam perjalanan yang begitu sunyi mendera
Ada malam resah meninggalkan basah terbungkam jejak yang gelisah
Dikotamu sebuah kisah telah terpasung dengan jemarimu
Seperti itulah saat dulu kau pernah mengikatnya menjadi harapan
Angin yang meluruhkan dedaunan dan sepotong irama jiwa kembali melebur

Ketika malam gerimis menikam sebuah penantian
Dan helai-helai tetesnya merobek jantungku,





Bandung, 10 Maret 2010 : Pkl. 04.36 pagi





-------ooOoo-------

Kamis, 18 Februari 2010

GENGGAM TANGAN DIDADA : Catatan Sebuah Pertanyaan

" Matahari Menyapa Lautan "
ilustrasi oleh: hasil browsing di google.com saja


MATAHARI DI TELAPAK TANGAN
(Samudera Membekap Dalam Dada)


- Sungguh.. saya tidak ingin matahari akan membakar jalan dan samudera akan menenggelamkan harapan. Saya ingin matahari memberi kehangatan lewat telapak tangan dengan genggaman yang penuh keakraban dan kasih sayang. Lalu samudera akan memberi kesejukan lewat debur ombaknya yang mengiringi angin berhembus di dalam hati dan perasaan sehingga setiap kata yang terlontar akan memberi ketenangan, semangat dan inspirasi yang baik .. –

MENJADI pecundang sungguh tidak enak. Butuh kesabaran tingkat tinggi untuk ‘melakoni bagian’ itu. Seperti halnya epos sebuah kemenangan, maka sejarah juga telah menulis kisah tentang mereka-mereka yang kalah. Paling tidak dari zaman peradaban manusia mengenal ‘pertikaian’ dan cita-cita, maka sejak itulah kalah menang menjadi kosakata manusia dalam kehidupan. Tutur temurun lewat lisan maupun tulisan telah mengisyaratkan berbagai versi eksistensi manusia. Masing-masing tentu menurut posisinya, apakah pemenang atau pecundang. Jalinan cerita yang terangkai menjadi catatan sejarah itu akan dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kebanggaan. Tak ada yang dibanggakan? Maka sejarahnya akan dibuat dengan berbagai ‘sentuhan’ subjektif sehingga terlihat manis. Paling tidak, nggak akan malu-maluin. Begitulah ..

Sejarah adalah subjektif, saya pikir semua orang akan bisa menerima pendapat itu. Objektifitas yang ada lebih kepada waktu, tempat, pelaku, dan rentetan peristiwanya. Namun pesan yang ditekankan pada intonasi suara atau pemilihan kata-kata dalam sejarah lisan tetaplah subjektif. Ini pun berlaku dalam sejarah tulisan, dimana penggunaan kalimat dipengaruhi oleh faktor sejarah itu versi siapa. Pencundang ataukah juaranya. Itulah sejarah dan saya tidak akan berbicara tentang sejarah secara teoritis ilmiah. Saya bukan ahli sejarah ataupun pengamat sejarah. Tapi satu hal yang saya tahu, bahwa tiap-tiap diri manusia adalah pelaku dan saksi dari sejarah hidupnya sendiri. Begitupun saya sendiri juga tentu adalah saksi dan pelaku dari perjalanan hidup saya sendiri, dimana saya menyebutnya sebagai kisah kemarin dan hari ini untuk masa depan.

Episode kali ini telah membimbing saya untuk membuka dan mencoba mengartikan sebuah makna kesabaran dan kesadaran terhadap diri saya. Tidak perlu menganalogikan sebagai orang lain, itu bisa menjadi gunjingan atau bahkan dapat dituduh fitnah (negative thinking mereka menyebutnya dan saya sungguh bingung jika itu adalah fakta..). Apa yang saya lakukan dan alami pada saat ini dan kemarin adalah catatan sejarah saya yang saya rangkai sendiri. Saya tidak malu menyebut ‘takluk’ jika saya kalah, sama seperti saya harus mengucap alhamdulillah jika saya keluar sebagai juara. Tapi tentu kata ‘mengalah’ itu tidak ingin saya lafadzkan, sebab sampai saat ini sejarah itu masih berjalan dan saya belum menyerah (sebelum titik perjuangan penghabisan). Saya masih berharap saya akan keluar sebagai pemenang dengan titel juara dan itu masih saya lakoni ‘pertempurannya’.

Banyak manusia mengalami sesuatu yang mirip de javu, dimana ia mengalami peristiwa yang sama dengan waktu dan tempat yang berbeda. Semua punya nilai masing-masing yang besar kecilnya tergantung dari seberapa jauh ia bisa mempengaruhi sisi-sisi kehidupan manusia itu secara pribadi. Terkadang saya harus banyak mengalah dan menerima apa saja yang ada. Walaupun terkadang rasa benar pada sisi humanis saya tanpa sadar membuat saya sedikit ‘melawan’, tapi kemudian saya akan ‘mengalah’ kembali. Keterbatasan kemampuan dan posisi membuat saya harus menuruti alur yang ada. Disini ujian kesabaran menjadi sesuatu yang harus dipertaruhkan. Saya tidak bisa menolak, kesadaran saya mengatakan inilah bagian saya. Keinginan untuk bisa protes tentulah ada dan saya berharap ada masa dimana protes saya itu bisa diterima dan dapat dianggap sebagai sebuah pertanyaan wajar yang akhirnya mendapatkan ‘jawaban’ semestiya. Bukan cuma saya sendiri, semua orang juga pasti menginginkan hal yang sama. Sesuatu yang lumrah dan manusiawi.

Jika ingin menjadi manusia bijak maka posisikanlah diri kita dalam posisi orang lain. Sebuah filosofi hidup yang sederhana dan kalimat itu saya percaya betul bisa membuat kita bisa mengerti dan memahami orang lain, sebab suatu saat nanti kita pun bisa mengalami hal yang sama. Pastinya kita berharap pada saat itu orang lain akan bisa juga mengerti kita. Tapi ternyata tidak sesederhana itu, karena ternyata tidak semua orang bisa seperti itu. Keegoisan terkadang ternyata telah membuat orang hanya menempatkan dirinya sendiri sebagai individu yang keras. Mungkin itulah salah satu seninya manusia, positive thinking saya mengatakan seperti itu.

“Yah.. memang beginilah saya, mau gimana lagi..?!”, kalimat itu menjadi sering saya dengar. Entah apakah kalimat itu akan tetap dipakai jika posisi manusia itu berada dalam posisi sebaliknya. Seorang guru SD saya dulu mengatakan bahwa, “manusia terbaik adalah mereka yang selalu belajar untuk memperbaiki dirinya..”. Jika begitu, kenapa begitu susah untuk merubah sesuatu yang memang disadari tidak (kurang) baik? Saya berpikir kalau kemudian kondisi ego itu tidaklah mutlak tetap, ia akan berubah tergantung posisinya. Apakah pemenang atau pecundang, apakah sebagai yang takluk atau juara.

Baiklah, semua manusia memang bisa menjadi apa saja. Semua karakter yang dimainkan itu adalah pilihan. Saya cuma bisa berharap diri saya bisa menerima semua itu sebagai sebuah catatan hidup yang membuat saya bisa mengerti setiap delik kehidupan dengan berbagai lika likunya. Sungguh.. saya tidak ingin matahari akan membakar jalan dan samudera akan menenggelamkan harapan. Saya ingin matahari memberi kehangatan lewat telapak tangan dengan genggaman yang penuh keakraban dan kasih sayang. Lalu samudera akan memberi kesejukan lewat debur ombaknya yang mengiringi angin berhembus di dalam hati dan perasaan sehingga setiap kata yang terlontar akan memberi ketenangan, semangat dan inspirasi yang baik. Jika itu terjadi, maka alangkah indahnya sejarah akan bisa ditulis sebagai sebuah cerita yang membanggakan dimasa depan yang indah.

Sederhana berbicara tentang perjalanan, seperti harapan semua orang maka saya juga ingin menjadi bagian yang bermakna dalam kisah yang (ter)baik. Saya menyadari bahwa saya dengan amat sadar telah meleburkan diri dalam cerita perjalanan hidup. Takdir telah mengirim saya hadir tapi bukanlah untuk menjadi duri, bara, ataupun gelombang yang mengganggu perjalanan. Jika seperti itu, bisakah kita membedakan telapak tangan dengan telapak kaki? Untuk menggenggam harapan dan tetap memijak bumi ..



*Sebuah persembahan kepada: matahari, bulan, bintang, angin, hujan, embun, gerimis, pagi, senja, malam, dan pelangi yang begitu saya sayangi ..




Bandung, 18 Pebruari 2010






-------ooOoo-------

Minggu, 07 Februari 2010

MENELAAH WAKTU : Catatan Tentang Pandangan Diri

“ Renungan Perjalanan “
ilustrasi oleh: sendiri aja dibantu adobephotoshop CS2


REALISTIS


- Bagaimanapun juga, ketidakrealistisan itu akan membuat keinginan seperti menjadi mimpi. Sama dengan kerealistisan juga akan menempatkan manusia pada posisi normal atau pada posisi tidak wajar dalam melaksanakan harapannya. Menghadang kenyataan dan kita terkadang terjebak pada dilema hidup dalam memutuskan apakah masih wajar dan berhak untuk berharap atau tidak sama sekali .. -

DUNIA adalah tempat buat hidup. Menjalani segala hal yang merupakan bagian dari fitrah manusia sebagai salah satu pengisi bumi. Dilahirkan, besar, bekerja, berkembang biak, dan akhirnya mati kembali kepada pencipta-Nya. Tentunya sebagai sebuah ‘organisasi’ yang besar, hidup di dunia ada aturannya yang berkenaan dengan hak dan kewajiban. Tapi selain itu, saya ingin menambahkan, bahwa manusia juga mempunyai aturan lain yang mengatur tentang harapan. Yah, harapan.. hidup di ‘lembaga super besar’ seperti bumi mempunyai ‘undang-undang’ yang berbeda. Salah satunya adalah mungkin yang disebut dengan takdir, yaitu sebuah misteri (hanya Tuhan yang tahu) yang mengatur hal-hal tentang semua yang berada diluar daya nalar dan pikiran manusia. Lahir, mati, rezeki, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya adalah merupakan rangkaian dari takdir itu. Manusia tentu mengharapkan hal-hal yang sesuai dengan keinginannya dan ia bisa mendapatkan itu dengan usahanya. Namun manusia pun harus bisa menerima jika akhirnya hasil akhir tidak seperti yang diharapkan.

Saya tidak ingin berbicara terlalu banyak tentang harapan. Sudah sering saya berbicara tentang itu, walaupun disini juga menyinggung tentang harapan tapi itu adalah efek dari pembicaraan inti. Yah, kali ini saya ingin berbincang-bincang tentang kenyataan atau yang disebut dengan nama lainnya; REALISTIS. Sebuah kata yang sangat berdekatan arti dan maknanya, yaitu realistis, kenyataan dan fakta. Sebelumnya pada sebuah kesempatan saya pernah mengetik kata “realistis” di mesin pencari terbesar dan (mungkin yang tercepat) di dunia saat ini, www.google.com ketika saya bermain internet. Saat saya meng-enter kata itu, dalam 0,31 detik keluar sekitar 16.800.000 (enam belas juta delapan ratus ribu) kata “realistis” dengan berbagai tautan yang mengandung kata itu. Saya kemudian berpikir jika kata realistis telah menjadi bagian dari banyak sendi kehidupan manusia dalam menjalani hidupnya, termasuk saya.. ya saya sendiri. Apalagi kita hidup di negeri dengan ideologi ketuhanan yang terpatri dalam setiap elemen masyarakatnya.

Sebagai manusia yang dianugerahi pikiran dan akal sehat, tentu saya mempunyai cita-cita atau harapan akan sebuah hari esok yang gemilang. Sebuah hal yang lumrah dan merupakan ‘kewajiban’ agar saya tetap bersemangat menjalani hidup dan juga agar saya mempunyai tujuan hidup yang harus saya gapai dan perjuangkan. Untuk itulah kenapa saya dipelihara dan dididik dengan baik oleh orang tua saya. Lalu atas dasar itulah juga kenapa kemudian saya mencari ilmu, baik lewat sekolah maupun diluar sekolah sebagai pengalaman hidup yang menjadi pembelajaran.

Namun, mempunyai harapan ternyata tidak begitu mudah. Terkadang manusia ‘tersesat’ diparadigma bahwa manusia ‘berhak’ untuk berharap apapun yang dia inginkan dalam hidupnya. Mungkin ini akibat dari kalimat jika manusia bisa melakukan apapun (dalam konteks manusianya) kalau dia mau untuk melakukannya walaupun itu tidak logis dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Biarpun itu intinya adalah menekankan sejauh mana manusia berusaha untuk mewujudkannya, tapi saya tidak begitu sepakat sebab manusia tidak hidup sendiri. Manusia adalah makhluk ego tapi jangan sampai egois sebab ia hidup bersama manusia lain, dimana saat ia mempunyai harapan maka disitu ada hal yang berkaitan dengan manusia lain yang juga mempunyai harapan yang (mungkin) berbeda. Maka disini akan ada tarik menarik keinginan (harapan), siapa yang punya posisi dekat dengan kemungkinan maka dia yang lebih berpeluang untuk menjadi pemenang. Disamping itu, kondisi nyata manusia juga berpengaruh terhadap keinginannya itu, apakah disebut harapan hidup atau harapan kosong yang hanya bisa dinikmati didalam mimpi.

Saya sering terjebak dalam harapan kosong sebab saya tidak (lupa) memperhatikan potensi diri. Yang saya maksud dengan potensi diri adalah siapa saya, seperti apa saya, bagaimana saya, punya apa saya, dan bisa apa saya? Terkadang saya berharap pada falsafah bahwa sesuatu yang diinginkan dengan alasan baik, cara yang baik, dan untuk tujuan baik itu akan selalu bisa mendapatkan jalannya. Ternyata saya lupa satu hal bahwa saya harus realistis dengan diri dan kondisi saya sendiri saat saya mengharapkan sesuatu. Saya memang selalu terjebak dengan angan-angan sendiri. Pada khayalan yang membuat saya seperti ‘hidup di alam nyata’. Padahal saat saya berpikir tentang itu, mungkin saya sedang bermimpi. Berharap besar boleh tapi jangan sampai tidak sepadan dengan kemampuan dan saya harus realistis dengan kemampuan saya.

Banyak hal yang saya inginkan untuk bisa tercapai dalam hidup saya. Sebenarnya tidak ada hal-hal yang (mungkin) menurut orang lain adalah sesuatu yang hebat. Namun kemampuan dan keadaan tiap orang adalah berbeda. Jadi bagi orang lain itu harapan normal dan wajar maka bagi saya adalah menggantung harapan kosong. Saya mungkin tidak realistis dalam melihat siapa saya, seperti apa saya, bagaimana saya, punya apa saya, dan bisa apa saya. Bagaimanapun juga, ketidakrealistisan itu akan membuat keinginan seperti menjadi mimpi. Sama dengan kerealistisan juga akan menempatkan manusia pada posisi normal atau pada posisi tidak wajar dalam melaksanakan harapannya. Menghadang kenyataan dan kita terkadang terjebak pada dilema hidup dalam memutuskan apakah masih wajar dan berhak untuk berharap atau tidak sama sekali.


………………………..
Kukalungkan rinduku selepas aku kembali pulang
Tak akan kulepaskan dekapku
Karena ku tahu pasti aku merindukanmu
Seumur hidupku ..
………………………………….
………………………….

(Perjalanan – PADI)


Saya harus terus banyak belajar, memahami tentang arti diri sendiri. Menghargai keinginan-keinginan saya sendiri dan mencoba untuk menempatkannya secara wajar dan baik. Agar ia tidak menjadi berserak dan tergeletak tanpa makna dan arti sebagai sebuah hikmah hidup. Saya ingin mempunyai harapan-harapan yang realistis dan tidak kosong. Menjadikan harapan saya menjadi realistis.. tapi caranya gimana? Saya sendiri masih bingung hehehee.. Selalu ada masalah dalam setiap masalah dan saya bermasalah dengan keinginan-keinginan saya hehe.. Bingung juga, entahlah.. Pesimis? Tidak sama sekali, cuma bingung saja.. heuheu..


…………………………
Ku tak akan bersuara walau dirimu kekurangan
Hanya setiamu itu .. kuharapkan ..
……………………..
………………………………

(Aku Tak Akan Bersuara – Nike Ardila)



Entahlah, apakah Dedy Dores realistis saat menciptakan lagu itu atau tidak. Atau mungkin juga dia realistis, lalu menciptakan lagu itu untuk mengejek manusia-manusia yang tidak realistis. Saya kurang tahu juga karena sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan Dedy Dores dan menanyakan tentang lagunya itu. Saya sekarang ini mungkin tidak terlalu tertarik untk berbicara masalah latar belakang sebuah lagu itu diciptakan. Para pencipta lagu terkadang terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, seniman memang seperti itu dan saya memakluminya. Tapi itu urusan seniman dan saya bukan seniman. Walaupun harus saya akui juga kalau saya sering terbuai dengan lagu-lagu yang membuat saya merenung dan melamun.

Saya hanya orang biasa yang tidak ingin menggantung cita-cita setinggi bintang dilangit karena itu terlalu tinggi untuk orang seperti saya. Menaruhnya dilangit-langit kamar cukuplah buat saya saat ini. Mungkin itu yang realistis untuk saya gapai. Tapi karena saya adalah orang yang optimis, maka yang saya taruh dilangit-langit kamar itu adalah harapan yang tergantung dilangit. Biar menjadi dekat dan mudah untuk digapai. Tapi bagaimana cara memindahkannya? Sampai tulisan ini saya buat, saya sendiri masih bingung .. Mungkin ada yang mau membantu saya?




Bandung, 7 Pebruari 2010







-------ooOoo-------

Sabtu, 06 Februari 2010

PUISI : Kahlil Gibran

JEJAK 'SANG NABI'



Saya posting sebagai dedikasi buat semua yang merasa sebagai pecinta dan menghargai 'cinta' yang mampir di blog ini, sebuah karya dari Kahlil Gibran. Selamat menyelami ..



" Dari Buku Kahlil Gibran: Sang Nabi "
(klik pada gambar untuk melihat lebih jelas)


KAHLIL Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Basyari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam. Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah. Dari secarik kertas yang ditinggalkan oleh Gibran, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

(lihat lengkapnya pada sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kahlil_Gibran)




*Judul " Apabila Cinta Memilihmu " oleh saya sendiri







-------ooOoo-------