CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Selasa, 30 November 2010

HUJAN BULAN NOVEMBER : Catatan Sebuah Syair Dari GnR

" Tangan Dalam Hujan "
ilustrasi oleh: ambil di google (seperti biasa), entah punya siapa




NOVEMBER 2010 .. Harusnya saya bisa menyelesaikan sebuah tulisan saja untuk bulan ini, namun semua hilang. Inspirasi tak pernah datang atau saya yang malas? Entahlah .. Padahal bulan ini adalah bulan ‘keramat’, hujan masih saja menguyur dan bercengkerama dengan bumi. Saya terjebak dalam lamunan gerimis pada malam-malam yang fana. Geliat ketikan di keyboard komputer akhirnya memberi sebuah jalan keluar. Yah .. daripada tidak ada sama sekali, maka syair dari Guns ‘n Roses ini mungkin bisa kita nikmati ..


NOVEMBER RAIN

(Guns 'n Roses)

When I look into your eyes
I can see a love restrained
But darlin' when I hold you
Don't you know I feel the same
'Cause nothin' lasts forever
And we both know hearts can change
And it's hard to hold a candle
In the cold November rain
We've been through this such a long long time
Just tryin' to kill the pain
But lovers always come and lovers always go
An no one's really sure who's lettin' go today
Walking away
If we could take the time to lay it on the line
I could rest my head
Just knowin' that you were mine
All mine
So if you want to love me
then darlin' don't refrain
Or I'll just end up walkin'
In the cold November rain

Do you need some time .. on your own
Do you need some time .. all alone
Everybody needs some time .. on their own
Don't you know you need some time .. all alone
I know it's hard to keep an open heart
When even friends seem out to harm you
But if you could heal a broken heart
Wouldn't time be out to charm you

Sometimes I need some time .. on my
own Sometimes I need some time .. all alone
Everybody needs some time .. on their own
Don't you know you need some time .. all alone

And when your fears subside
And shadows still remain, ohhh yeahhh
I know that you can love me
When there's no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
'Cause nothin' lasts forever
Even cold November rain


Don't ya think that you need somebody
Don't ya think that you need someone
Everybody needs somebody
You're not the only one
You're not the only one ..





-------ooOoo-------

Kamis, 28 Oktober 2010

HARI SUMPAH PEMUDA : Catatan Dari http://tribunjabar.co.id

" Merapi "
ilustrasi oleh: nemu di google.com / kompasiana.com



* Sumpah Lansia, "Bertanah Air Satu, Tanah Air Airmata .."


MARI kita menangis, SBY. Usia kita sudah lanjut. Biarkan airmata lansia ini menjadi Indonesia. Tapi tunggu dulu, lihat saya, SBY. Kita perlu kacamata hitam. Kenapa? Pasalnya, mata lansia itu jendela batin yang jujur. Receptor yang sering diteror rangsangan macam-macam. Lihat cermin, SBY! Mata kita bisa ditipu ilusi ketika rangsangan melecut lewat sinyalsinyal munafik. Mata kita bisa dikecoh halusinasi. Bahkan siapa bilang hanya olok-olok, saat mata kita diteror sinaetesi juga garis-garis perspektif yang pedih Ini semua kerap melahirkan keanehan-keanehan osilasi.

Mari kita menangis, SBY. Lihatlah ada nestapa Indonesia di belantara kesunyian kemiskinan. Bisa jadi ini kutukan kultural ketika kita bersembunyi di ketiak peradaban yang tidak lagi mempunyai jenis kelamin. Lihatlah 35 juta penduduk miskin tahun 2010, konon menurut BPS bertebaran di persada tanah air. Manusia miskin itu bagi laron-laron muram mengejar cahaya Jakarta untuk sebuah kematian yang pedih. Benar, ayo tetep menangis, SBY. Simak, 35 juta manusia Indonesia yang miskin itu cuma bisa jongkok di tepian belantara nestapa, memandangi kolam Nusantara dengan bibir kering. Indonesia bagai tembok gelap ketika surga forestrasi di republik ini menjadi bancakan para korporasi. Petani gurem cuma dapat 0,25 ha sementara petani kakap ngangkang di atas 56,3 juta hektar.

Oh, biarlah kita tetap menangis, SBY! Ini airmata dari mataair kolbu terjernih yang masih kita miliki. Lihatlah, pada 1998, sebanyak 10 konglomerat di Indonesia telah menguasai lahan seluas 65 ribu hektar. Lantas 10 tahun kemudian, mereka kuasai areal kerja 10,04 juta hektar. Ini tentu angka raksasa tiwikrama.

Siapa mencuri airmata kinasih kita, SBY? Lupakan itu dulu. Mari kita buka kacamata hitam kita. Kita ziarahi sejarah 79 tahun yang lalu. Saat itu ada airmata merah putih di setiap bola mata pemuda. Sebut saja Soekarno! Soekarno di Gedung Nasional Surabaya, awal Januari 1932 baru saja keluar dari penjara Sukamiskin Bandung.

"Berilah saya seribu orang tua, saya bersama mereka kiranya dapat memindahkan Gunung Semeru," tutur Soekarno di depan Kongres Pertama Indonesia." Tetapi apabila saya diberi sepuluh pemuda bersemangat dan berapi-api kecintaanya terhadap bangsa dan tanah air tumpah darahnya, saya akan dapat menggemparkan dunia."

Benar, SBY! Pemuda bermata telanjang itu, bagi Gubernur Jenderal Jonkheer Mr BCD De Jonge adalah matahari agitator politik yang kotor. Mata telanjang begini perlu diendapkan di pulau-pulau pengasingan. Soekarno tanpa diadili diasingkan tanpa diadili di Endeh, Flores. Sementara Hatta, Sjahrir, Burhanuddin, Maskun, Suka, Bondan dan Marwoto digiring di Boven Digul.

Mari menangis, SBY. Kali ini untuk airmata WR Supratman. Pemuda belia itu sadar makna sebuah perlambang. Jendela batin sesungguhnya mesti akrab dengan indera pendengar. Maka dengarlah suara biola dan gitar yang mengumandangkan Indonesia Raya dari Indonesisch Clubgebouw jalan Keramat 106 Batavia. Benar, kongres Pemuda Indonesia ke II bagai menyatu dalam satu nada bernama Indonesia! Ada tepuk tangan, ada keharuan, ada kemandirian bertanah air berbangsa dan berbahasa. Ini suatu penyembahhan kolektif terhadap nada dan perlambang.

Maka tak aneh bila saat ulang tahun kelompok Studi Indonesia, 27-28 Juli 1929, ternyata ketika masih ada pejabat-pejabat negeri yang tetap duduk sewaktu Indonesia Raya dinyanyikan, Sutomo pun berteriak "Mereka yang tetap duduk adalah kerbau!" Juga ucapan Maskun dalam sebuah rapat PNI di Bandung,September 1929. "Hadirin yang mempunyai semangat kebangsaan dan berbudaya, akan berdiri menghormati lagu Indonesia Raya. Hanya mereka yang berjiwa kerbau akan tetap duduk!"

Ah, tentu kita bukan kerbau, SBY! Sebab kita tahu mata batin yang telanjang, tentu itu sang kekuatan. Sebab dalam kejernihan bola mata itu terpancar kesungguhan menjadi Indonesia. Mereka penggerak lokomotif perjuangan. Mata pemuda tanpa kacamata itu tentu saja sangat cepat menyerap patriotisme. Dan ini perlu, "Ide nasional harus sadar politik," ucap Soekarno dalam sebuah rapat umum PNI cabang Bandung di Gedung Bioskop Oranye Groote Postweg Cikakak, September 1829. "Meskipun suatu negara punya 10 ribu meriam, negara itu tetap lemah selama rakyatnya tetap seperti kecoak. Sebaliknya rakyat yang tidak bersenjata, tetapi mempunyai watak dan kesadaran berpolitik, tidak akan kalah sekalipun harus berhadapan dengan tentara bersenjata."

Oh, tentu-tentu, SBY. Tentu kita bisa beda dengan Soekarni. Agitasi berlebihan adalah langkah kalah yang melelahkan. "Demonstrasi dan agitasi saja adalah mudah karena tidak berkehendak akan kerja dan usaha terus menerus," tulis Hatta di Daulat Rajat 20 september 1932. Bagi Hatta, agitasi hanya melahirkan kegembiraan hati bersifat sementara. Sesaat dan terhenyak. Persis sama seperti dituturkan Lukman Al Hakim,: "Anakku, jadilah kau bagian garam yang akan membuat ikan-ikan berenang dengan tenang. Andai tidak bisa, janganlah kau menjadi lalat. Sebab lalat itu hanya akan membuat ulat menjadi raja di sekitar ikan." Juga persis yang dituturkan Gajah Mada tahun 1362. Mahapatih Gajah Mada dalam peseradaan agung, sambil membungkuk di hadapan Seri Nata berkata: "Seri Baginda adalah memikul kewajiban yang menurut timbangan orang yang sungguh-sungguh tidak boleh diabaikan."

Tapi itu dulu, SBY. Hari ini, ayo, jangan malu, mari kita menangis, SBY. Pakai kembali kacamata hitam. Kita sudah lanjut usia. Ujung emas monas tidak lagi semanis sejarah masa lalu. Indonesia bisa jadi hanya sebuah fiksi yang kita paksakan untuk ada di sebuah peradaban yang lalim. Lantas, tiap kali kita menangis maka akan lahir cerita bagus tentang penyediaan lapangan usaha (pro-growth), penyediaan lapangan kerja (projob), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan perbaikan kualitas lingkungan hidup (pro-environment).

Mari kita menangis, SBY. Kita duduk di pojok Masjid Al Ukhuwwah, Panyileukan. Tengadahkan wajah. Heneng, hening dan Eling. Dan ikrarkan sumpah lansia: "Bertanah air satu, tanah air: airmata. Berbahasa satu: bahasa airmata basah. Berbangsa satu: bangsa yang digerogoti para bangsat!"


Tuesday, 26 October 2010





* Tandi Skober, Pengarang dan Anggota Dewan Penasihat Indonesia Police Watch

Catatan ini diambil oleh airbening21 dari http://tribunjabar.co.id, diposting kembali disini tidak untuk kepentingan komersil .. sekedar berbagi, semoga mendapat hikmah dan inspirasi ..




-----ooOoo-----

Jumat, 10 September 2010

PUISI : Kepada Sebuah Bedug

" Sang Penabuh Bedug "
ilustrasi oleh: airbening21 dan model oleh: Atang


BEDUG



Dung .. Dung .. Dung ..
Suara bedug seperti sudah di pinggir telinga
Dung .. Dung .. Dung ..
Dan aku harus bersiap berlomba dengan hujan
Dung .. Dung .. Dung ..
Ternyata hanya degup jantung saja

Tapi, oh .. Rupanya ada ribuan bintang sujud hari ini
Bulan matahari mengemas doa senja kala
Lalu aku pun mengemas segala dosa
Dalam kata-kata maaf pujangga lara yang fana
Lebaran .. Bedug .. Takbir dan Tahmid ..
Dan aku merasa tak pernah jadi pemenang

Bedug dikaki matahari
Aku mendengarnya seperti tetesan gerimis,


Lebaran Di Bandung, 10 September 2010 - 1 Syawal 1431 H.






-------ooOoo-------

Kamis, 09 September 2010

MEMINTA MAAF : Catatan Lebaran 2010

" Tangan Dijabat "
ilustrasi oleh: hasil nemu dari google.com


CUCI TANGAN
Minal Aidin Wal Faidzin .. Mohon Maaf Lahir dan Bathin


- “.. sebab kita adalah makhluk yang bernama manusia, maka cukup manusiawi ketika kita agak susah untuk bercerita tentang hari ini dengan begitu ‘putih’ tanpa kita tidak teringat dengan hari kemarin, sebab masa lalu terkadang selalu menjadi bayangan setia kita menuju hari esok dan kita merasa perlu untuk belajar dari peristiwa itu ..” -

MANUSIA adalah makhluk yang ‘cerdas’, akhirnya saya harus berkata seperti itu. Ia akan senantiasa mencoba untuk mengambil keuntungan dari setiap apa yang terjadi dengan motif tertentunya. “Momen yang tepat ..”, manusia menyebutnya. Banyak hari-hari yang bisa dijadikan ‘kambing hitam’ sebagai momen subjektifnya. Tidak peduli itu adalah momen apapun akan ia gunakan sebaik mungkin. Bila perlu ia akan menunggu, walaupun sebenarnya ‘pekerjaan’ tersebut bisa ia lakukan saat itu juga, tapi karena ia perlu pembenaran dan alasan maka ia rela menunggu datangnya hari tersebut. Mungkin menurutnya itu lebih penting daripada esensi ‘pekerjaannya’, termasuk untuk urusan meminta maaf.

Meminta maaf (dan mungkin juga memberi maaf) adalah sesuatu yang sangat gampang. “gratis, gak perlu bayar .. mau ribuan kali juga gak apa-apa ..”, seorang kawan senior saya dulu yang anggota Wanadri pernah mengatakan itu. Disini kita bisa membayangkan bahwa berkata maaf itu memang sangat mudah dan murah. Tentu saja manusia sangat menyukai sesuatu yang mudah dan murah. Di Indonesia, hari raya Iedul Fitri alias lebaran adalah saat yang ditunggu-tunggu untuk mengobral kata maaf. Kekeliruan yang disengaja (terlebih yang tidak disengaja) selama satu tahun kebelakang ingin dihapus hari itu juga. Terlepas dari entah apakah esensi dari kesalahan itu sudah diluruskan dan diselesaikan atau belum. Yang penting minta maaf di hari lebaran dan putih bersihlah semuanya seperti bayi baru lahir. Enak sekali ..

Lalu saya mulai berpikir, “apakah memang segitu mudahnya?”. Pertanyaan ‘nakal’ saya mencoba menggugat banyak hal, tentang perilaku dan kecenderungan manusia untuk memanfaatkan momen demi sesuatu yang dirasa sangat sarat muatan kepentingan dirinya. Suatu pola untuk menjadikan dirinya kembali ‘tampak bersih putih’ dan bebas dari segala kesalahan, baik kepada sesama manusia maupun terhadap Tuhan. Perilaku ini saya sebut dengan gerakan “AGENDA CUCI TANGAN GRATIS”.

Anda tahu arti cuci tangan? Iya, kita biasanya melakukan itu sebelum dan sesudah makan serta saat kita merasa tangan kita kotor. Cuci tangan yang saya maksud pada catatan ini tentunya tidaklah benar-benar seperti itu, sebab cuci tangan itu adalah kata kiasan. Biasanya berhubungan dengan kalimat-kalimat kiasan lainnya seperti ‘lempar batu sembunyi tangan’ atau ‘kura-kura dalam perahu’ tentang masa lalu. Sebuah ‘ritual‘ dimana manusia ingin manusia lainnya tempat ia mempunyai kesalahan bisa akan memaafkan kesalahannya diwaktu lampau pada satu tahun kemarin. Jika ‘kasusnya’ dulu cukup berat (berat disini relatif subjektif), maka disini biasanya ada semacam kondisi serba salah pada individu yang akan memberi maaf. Dan kondisi ini betul-betul dimanfaatkan oleh sang peminta maaf untuk ‘menekan’ pemberi maaf agar memaafkan ‘kasus’ itu secara lahir bathin. Tentu saja penekanan itu dengan embel-embel ini adalah hari lebaran, dimana kita semua mestinya kembali ‘menjadi bayi tanpa dosa’. Luar biasa ..

“.. sebab kita adalah makhluk yang bernama manusia, maka cukup manusiawi ketika kita agak susah untuk bercerita tentang hari ini dengan begitu ‘putih’ tanpa kita tidak teringat dengan hari kemarin, sebab masa lalu terkadang selalu menjadi bayangan setia kita menuju hari esok dan kita merasa perlu untuk belajar dari peristiwa itu ..”, kurang lebih saya menulis itu di wall facebook saya. Bukan tanpa maksud, sebab saya ingin mencoba mengingatkan kepada para peminta maaf untuk sedikit ‘beretika’ saat minta maaf. Terlepas apakah itu di hari raya Iedul Fitri, hari proklamasi kemerdekaan, maupun hari-hari atau momen apapun. Memang betul, kita sangat dianjurkan untuk menjadi insan yang pemaaf. Tapi tidak kemudian anjuran itu seolah-olah menjadi pembenaran buat kita untuk berbuat salah sesuka hati kepada manusia lain. Tuhan memang Maha Pemaaf dan Pengampun, namun etika berkehidupan sosial telah mengajarkan kepada kita untuk mempunyai cara dan aturan menyelesaikan masalah. Memberi maaf itu gampang, cuma harus jelas dulu bahwa duduk perkara pada suatu masalah. Jangan sampai kemudian ‘perilaku tidak baik’ pada masa lalu seolah-olah menjadi bukan sesuatu yang keliru. Jika seperti itu, maka kita telah mengajarkan dan membenarkan sesuatu yang salah atau keliru. Duduk perkara belum lurus, tapi sudah dianggap tidak ada masalah alias clear putih bersih seperti bayi baru lahir.

Beberapa saat lalu seseorang telah begitu saja menuduh saya sebagai seorang pendendam. Saya santai saja sebab saya tidak pernah memelihara sebuah dendam untuk jangka waktu yang lama. Tidak ada untungnya. Tapi saya bisa memaklumi ‘tuduhan’ tersebut dialamatkan kepada saya. Si penuduh mungkin kecewa saat saya tidak serta merta ingin melupakan peristiwa pada masa lalu itu walaupun ia memanfaatkan momen Ramadhan dan Iedul Fitri untuk ‘mencuci tangannya’. Posisi yang berbeda dan harusnya si penuduh tidak begitu saja egois hanya ingin masalahnya beres dan menjadi sejarah yang terkubur, tapi ia harus belajar mengerti bahwa saya ingin mengingatkan sesuatu kepadanya. Bahwa kita harus menjadi manusia beradab yang berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab dengan menjelaskan secara jujur berbagai hal yang menjadi pokok dari masalah tersebut sehingga menjadi gamblang dan terang. Dengan begitu maka kita bisa mengambil hikmah dari masalah tersebut. Seandainya saya begitu saja melupakan dan memaafkan, maka si penuduh akan merasa bahwa ternyata gampang untuk melakukan hal yang sama. Toh, nanti kita bisa maaf dan semua beres tanpa harus merasa bersalah. Begitu naif ..

Salah satu yang berat dimuka bumi ini bukanlah gunung, tapi mengakui suatu kesalahan. Kalimat, “iya .. saya salah ..” sepertinya tidak pernah berani dilanjutkan dengan penjelasan, “.. karena .. bla .. bla .. bla ..”. Terlalu gengsi atau dengan alasan yang lain manusia seperti tidak ingin benar-benar menjadi salah, meskipun kesalahan itu berpeluang 95 persen ada pada dirinya. Selalu saja ada kecenderungan lebih untuk mencari 'kambing hitam' atau mencari alasan lain agar ‘si korban’ memberi maaf dan dengan begitu ia menjadi puas. Dengan kata lain, manusia selalu ingin mencuci tangan dengan benar-benar bersih seolah-olah ia tidak pernah ‘membuat kotor’, walaupun memang benar ia telah ikut membuat kotor.

Yah.. masyarakat Indonesia adalah bangsa pemaaf. Oleh sebab itu ia (mungkin oleh para pelaku) dihimbau untuk memaafkan banyak hal dimasa lalu tanpa ia berhak tahu tentang apa yang terjadi pada masa itu. Berbagai rezim yang telah berkuasa selalu ingin menjadi ‘bersih’ kembali dengan memanfaatkan waktu yang berlalu untuk mengarahkan kita melupakan sejarah (kelam) tanpa pernah mereka berani untuk mempertanggungjawabkannya. Kondisi yang sedemikian itu sudah menjadi ‘kebiasaan’ masyarakat kita dan kita pun mengikutinya, sebab itu memang ternyata menguntungkan bagi si peminta maaf. Pemberi maaf hanya bisa memaafkan dan misteri sesuatu akan tetaplah menjadi misteri.

Suara bedug menyambut Iedul Fitri 1431 Hijriyah atau 2010 Masehi telah digendang telinga. Dan saya merasa tidak pernah memaafkan siapa-siapa, bukan tidak ingin merayakan Iedul Fitri ini dengan bermaaf-maafan, tapi saya tidak tahu dan tidak mengerti atas dasar apa saya harus memberi maaf. Siapa yang salah dan kenapa harus salah? Jangan-jangan peminta maaf tidak bersalah dan yang keliru sebenarnya saya. Itu tidak bisa terjawab, kecuali sang peminta maaf mau bercerita terlebih dulu .. dengan jujur tentunya dan inilah kemudian yang paling berat buat manusia.



Bandung, 30 Ramadhan 1431 Hijriyah / 09 September 2010




TERIMA KASIH : untuk semua yang telah menginpirasi saya membuat tulisan ini, paling tidak saya akhirnya bisa memposting sesuatu untuk meng-update tulisan terbaru saya diblog ini .. salam hangat dan selamat berlebaran .. ingat, jangan terlalu minta maap kepada saya apabila tidak merasa bersalah .. sip ..





-------ooOoo-------