CINTAI LINGKUNGAN UNTUK SELAMATKAN BUMI KITA : Iklan Layanan airbening21 Untuk Semua

Berbagi Apa Yang Bisa Dibagi

Jumat, 25 Oktober 2019

So Long Time

Lama Tak Jumpa



Sudah lama sekali saya tidak masuk ke rumah ini. Semenjak saya sok sibuk, hampir lupa kunci pintunya. Rindu sekali, sebab rumah ini sudah 11 tahun saya berdiri.

Untuk kali ini, benging dululah. Belum ada kopi untuk disuguhkan, tapi yang penting bisa duduk-duduk dulu. Salam buat jejak perjalanan, hingga hari ini saya disini.



Praya Tengah, 25 Oktober 2019 - 00.25 Wita.

Sabtu, 09 September 2017


" Alang - Alang "
ilustrasi oleh: airbening21 dengan kamera pinjaman


DIARY TASYA


- Tuhan tidak pernah menelantarkan umat-Nya seorang diri. Keyakinan itu tergambar pada kegigihan seorang ibu .. -

MASA kecil itu ibarat mengukir diatas batu, apa yang dialami akan senantiasa terukir dalam ingatan. Yah, itulah sedikit kata-kata yang pernah saya dengar tentang arti sebuah kenangan di masa lalu. Tasya namanya, begitulah ia memperkenalkan dirinya. Berasal dari Jakarta ia menyelesaikan studinya saat ini di Bandung, ia teman kelas kami. Sedikit pendiam namun terlihat bersemangat.

Tasya remaja saat itu masih duduk di bangku SMP saat ayahanda tercintanya meninggal dunia. Tak ada yang bisa menolak maut, Tuhan punya kehendak untuk tiap-tiap makhluk-Nya. Keluarga Tasya pun harus menerima perjalanan kehidupannya tanpa ayah dengan tetap berusaha agar paling tidak sekolah Tasya dan kakaknya yang lain bisa terus berjalan.

Tuhan tidak pernah menelantarkan umat-Nya seorang diri. Keyakinan itu tergambar pada kegigihan seorang ibu. Dengan bantuan dari berbagai pihak akhirnya bisa membuat segalanya bisa sesuai harapan. Setidaknya saat ini semua itu telah mengantarkan Tasya bisa terus kuliah, mewujudkan cita-cita almarhum ayahnya sekaligus bisa membahagiakan ibunya. Hidup berjalan terus dan kita tak pernah bisa kembali ke masa lalu, namun kita harus tetap berusaha untuk bisa jadi pemenang di esok hari.



-------ooOoo-------

Sabtu, 24 Juni 2017

Sisi Lain

KARANGAN BUNGA


Tak semua yang jadi pemenang itu tenang, setelah kompetisi berakhir ada juga yang merasa gundah was-was & cemburu .. entah kenapa.

Alkisah, dulu dikampung kami ada kawan ditinggal nikah oleh pacarnya. Tentu kawan ini galau berat, lalu kami punya ide untuk mengadakan 'perayaan'. Semacam pesta kesedihan, pecundang juga berhak tertawa .. dan kami sebagai kawan menyediakan 'ruang'. Saling ledek, saling tertawai. Tujuannya agar yang ditinggal nikah merasa enjoy, bahwa kekalahan oleh saingan adalah sesuatu yang biasa. Jadilah pesta kecil bersama 'berpeko-peko tuak', begadang semalaman untuk menertawakan kenyataan.

Namun ternyata setelahnya kegundahan itu kemudian bukan ada di kawan yang jadi pecundang, tapi malah di saingannya yang jadi pemenang di pelaminan. Entah kenapa si saingannya itu selalu dihantui perasaan khawatir yang tidak jelas dan cemburu tak beralasan. Padahal perempuan itu telah jadi istrinya dan kawan kami itu setelahnya hampir tak pernah mengobrolkannya. Biasa aja ..

Setelah dipikir-pikir mungkin ini sisi lain manusia. Ketidakpercayaan diri bahwa dialah pemenangnya, jadi selalu berpikir aneh-aneh setiap kali melihat kawan kami lewat depan rumahnya. Setiap kali kami mendengar atau melihat kami berkumpul dan tertawa, ia merasa harus bersiaga. Padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Ia bagai pemenang yang tak merasa yakin menang.


Di posting di Bandung, 24 Juni 2017


------------------------

Kopi Lokal

MUSIM DINGIN


Di Lombok, ketika sudah lewat musim hujan dan saat masuk musim kemarau, ada masa dimana suhu dingin cenderung terasa menggigit. Embun dimalam hari turun lebih cepat dan tebal hingga terkadang terasa seperti ada gerimis kecil, dingin yang bagi sebagian orang membuat kulit terasa kering. Kabut dipagi hari juga terlihat lebih tebal dari biasanya. Masa ini biasa disebut dengan TELIH KEMBANG KOMAK.

Jika di Indonesia-kan, telih kembang komak itu artinya DINGINNYA KETIKA KACANG BERBUNGA .. saat yang tepat bagi petani untuk menanam palawija, setelah 2 kali menanam padi. Musim telih kembang komak juga membuat 'peta' berubah bagi penggemar 'kearifan lokal'. Di sesi ini 'Palm Wine' alias TUAK jadi tidak menarik untuk dinikmati, "terlalu dingin, bawaannya pengin pipis melulu," katanya. Tentu saja, karena tak ada tuak panas atau hangat.

Saatnya BREM alias air tapai atau air tapai ketan jadi pilihan menarik. Brem yang sudah diproduksi dari berbulan-bulan lalu oleh para peraciknya mulai dibuka, setidaknya brem yang disimpan semenjak musim kenduri kawinan sehabis panen tahun lalu. Bagi pedagang tetap, bremnya bisa diproduksi langsung sekarang. Cuma memang lebih nikmat yang disimpan lama, "dingin dimulut hangat diperut." Mengkonsumsinya juga tak mesti sebanyak tuak yang sekali 'ngumpul' bisa sampai berliter-liter ember (peko : sasak language). Kalau brem mah cukup beberapa botol saja.

Efek sampingnya? Melawan dingin dan melancarkan curhat.



Di posting di Bandung, 24 Juni 2017


------------------------------------